Temukan

Rabu, 27 Mei 2015

Sepenggal Teori Kecemasan

Menurut Arif Muttaqin (2008:161) pemeriksaan diagnostik yang diperlukan pada pasien dengan cidera kepala meliputi :
1.      CT scan (compute tomography scanning) dengan tanpa kontras
Mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan, ventrikuler, dan perubahan jaringan otak.
2.      MRI
Digunakan sama dengan CT scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
3.      Cerebral angiographi
Menunjukkan anomali sirkulasi seperti perubahan jaringan otak sekunder menjadi edema, perdarahan, dan trauma.
4.      Serial EEG
Dapat melihat perkembangan gelombang patologis
5.      Foto Rontgen (Sinar X)
Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis (perdarahan/edema), fragmen tulang.
6.      BAER
Mengoreksi batas fungsi korteks dan otak kecil
7.      PET
Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
8.      CSS
Lumbal fungsi dapat di lakukan jika diduga terjadi perdarahan subrakhnoid
9.      Kadar elektrolit
Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai peningkatan tekanan intracranial
10.  Scren Toxsikologi
Untuk mendeteksi pengaruh obat yang dapat penurunan kesadaran
11.  Rontgen thoraks dua arah (PA/AP dan lateral)
Rontgen toraks menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pelural
12.  Torask sentesis menyatakan darah atau cairan
13.  Analisa gas darah

Analisa gas darah adalah salah satu tes diagnostik untuk menentukan status respirasi yang dapat digambarkan melalui pemeriksaan AGD ini adalah status oksigenisasi dan status asam.


Menurut Asmadi (2008:165), kecemasan atau anxietas merupakan hal yang akrab dalam hidup manusia. Ansietas bukanlah hal yang aneh karena setiap orang pasti pernah mengalami ansietas dengan berbagai variannya. Ansietas sangat berhubungan dengan perasaan tidak pasti dan ketidakberdayaan sebagai hasil penilaian terhadap suatu objek atau keadaan. Keadaan emosi ini dialami secara subjektif, bahkan terkadang objeknya tidak jelas. Artinya, seseorang dapat saja menjadi cemas, narnun sumber atau sesuatu yang dicemaskan tersebut tidak tampak nyata. Ansietas ini dapat terlihat dalarn hubungan interpersonal.

Menurut Gunarsa (2008:27), kecemasan atau anxietas adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya. Pengaruh kecemasan terhadap tercapainya kedewasaan, merupakan masalah penting dalam perkembangan kepribadian. Kecemasan merupakan kekuatan yang besar dalam menggerakkan tingkah laku. Baik tingkah laku normal maupun tingkah laku yang menyimpang, yang terganggu, kedua-duanya merupakan pernyataan, penampilan, penjelmaan dan pertahanan terhadap kecemasan itu. Jelaslah bahwa pada gangguan emosi dan gangguan tingkah laku, kecemasan merupakan masalah pelik. Semua orang pasti merasakan kecemasan dalam derajat tertentu. Bahkan kecemasan yang ringan dapat berguna yakni dalam memberikan rangsangan terhadap seseorang. Rangsangan untuk mengatasi kecemasan dan membuang sumber kecemasan. Kecemasan yang menyebabkan seseorang putus asa dan tidak berdaya sehingga mempengaruhi seluruh kepribadiannya adalah kecemasan yang negatif. Rasa takut ditimbulkan oleh adanya ancaman, sehingga seseorang akan menghindar diri dan sebagainya.

Menurut Supratiknya (2009:81), fungsi kecemasan adalah memperingatkan sang pribadi akan adanya bahaya; ia merupakan isyarat bagi ego bahwa kalau tidak dilakukan tindakan-tindakan tepat, maka bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan. Kecemasan adalah suatu keadaan tegangan; ia merupakan suatu dorongan seperti lapar dan seks, hanya saja ia tidak timbul dari kondisi-kondisi jaringan di dalam tubuh melainkan aslinya ditimbulkan oleh sebab-sebab dari luar. Apabila timbul kecemasan maka ia akan memotivasikan sang pribadi untuk melakukan sesuatu. Sang pribadi bisa lari dari daerah yang mengancam, menghalangi impuls yang membahaya kan atau menuruti suara hati.

Menurut Asmadi (2008:165), ansietas dapat menjadi suatu kekuatan motivasi untuk pertumbuhan dan perkembangan pada individu yang bersangkutan. Dapat pula ansietas menjadi suatu beban berat yang menyebabkan individu tersebut hidupnya selalu di bawah bayang-bayang ansietas yang terus berkepanjangan. Ansietas berkaitan dengan stres. Olah karena ansietas timbul sebagai respons terhadap stres, baik stres fisiologis maupun psikologis. Artinya, ansietas terjadi ketika seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun psikologis. Stres merupakan bagian yang tidak dapat terelakan dalam hidup manusia. Meskipun dernikian, stres bukanlah merupakan sesuatu yang patologis. Terihat jelas bahwa ansietas ini mempunyai dampak terhadap kehidupan seseorang, baik dampak positif maupun dampak negatif. Apalagi bila ansietas ini dialami oleh klien yang dirawat di rumah sakit. Berbagai situasi dan kondisi akan mernbuatnya semakin cernas. Oleh karenanya perawat sebagai tenaga kesehatan profesional tidak boleh mengabaikan aspek ernosi ini dalam memberikan asuhan keperawatan.

Menurut Supratiknya (2009:81), Freud membedakan tiga macam kecemasan, yakni kecernasan realitas, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral atau perasaan perasaan bersalah. Tipe pokoknya adalah kecemasan realitas atau rasa takut akan bahaya-bahaya nyata di dunia luar, kedua tipe kecemasan lain berasal dari kecemasan realitas ini. Kecemasan neurotik adalah rasa takut jangan-jangan insting-insting akan lepas dari kendali dan menyebabkan sang pribadi berbuat sesuatu yang bisa mernbuatnya dihukum. Kecemasan neurotik bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika suatu insting dipuaskan.

Menurut Gunarsa (2008:27), kecemasan atau anxietas dapat ditimbulkan oleh bahaya dari luar, mungkin juga oleh bahaya dari dalam diri seseorang, dan pada umumnya ancaman itu samar-samar. Bahaya dari dalam, timbul bila ada sesuatu hal yang tidak dapat diterimanya, misalnya pikiran, perasaan, keinginan, dan dorongan.
Menurut Asmadi (2008:165-166), ada beberapa teori yang menjelaskan asal ansietas, yaitu :
1.      Teori psikoanalisis
Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik ernosional yang terjadi antara dua elernen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen tersebut, dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahava.
2.      Teori interpersonal
Dalam pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap penolakan saat berhubungan dengan orang lain. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan dan perpisahan dengan orang yang dicintai. Penolakan terhadap eksistensi diri oleh orang lain ataupun masyarakat akan menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cernas. Namun bila keberadaannya diterima oleh orang lain, maka ia akan merasa tenang dan tidak cernas. Dengan demikian, ansietas berkaitan dengan hubungan antara manusia.
3.      Teori perilaku
Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan hasil frustasi. Ketidakrnampuan atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan akan menimbulkan frustasi atau keputusasaan. Keputusasaan inilah yang menyebabkan seseorang menjadi ansietas.

 Menurut Asmadi (2008:166-167), kemampuan individu untuk merespon terhadap suatu ancaman berbeda satu sama lain. Tiap tingkatan ansietas mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda, bergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi ketegangan, harga diri dan mekanisme koping yang digunakannya.
Tabel 2.4
Tingkat Ansietas dan Karakteristik

Tingkat Ansietas
Karakteristik
Ansietas Ringan
·     Berhubungan dengan ketegangan dalam peristiwa sehari-hari
·     Kewaspadaan meningkat
·     Persepsi terhadap lingkungan meningkat
·     Dapat menjadi motivasi positif untuk belajar dan menghasilkan kreativitas
·     Respons fisiologis: sesekali napas pendek, nadi dan tekanan darah meningkat sedikit, gejaia ringan pada lambung, muka berkerut, serta bibir bergetar
·     Respons kognitif: mampu menerirna rangsangan yang kompleks, konsentrasi pada masalah, menyelesaikan masalah secara efektif, dan terangsang untuk melakukan tindakan
·     Respons perilaku dan ernosi: tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, dan suara kadang-kadang meninggi
Ansietas Sedang
·     Respons fisiologis: sering napas pendek, nadi ekstra sistol dan tekanan darah meningkat, mulut keririg. anoreksia. diare/konstipasi, sakit kepala, sering berkemih, dan letih
·     Respons kognitif: memusatkan perhatiannya pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, lapang persepsi menyempit. dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima
·     Respons perilaku dan emosi: gerakan tersentak-sentak, terlihat lebih tegang, bicara banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman
Ansietas Berat
·     Individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain
·     Respons fisiologis: napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan berkabut. serta tampak tegang
·     Respons kognitif: tidak mampu berpikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan/tuntunan, serta lapang persepsi menyempit
·     Respons perilaku dan emosi: perasaan mengancam meningkat dan komunikasi menjadi terganggu (verbalisasi cepat)
Panik
·     Respons fisiologis: napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi serta rendahnya koordinasi motorik
·     Respons kognitif: gangguan realitas, tidak dapat berpikir logis, persepsi terhadap lingkungan mengalami distorsi, dan ketidakmampuan memahami situasi
·     Respons perilaku dan emosi: agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriak-teriak, kehilangan kendali/kontrol diri (aktivitas motorik tidak menentu), perasaan terancam. serta dapat berbuat sesuatu yang membahayakan din sendiri dan/atau orang lain


Menurut Asmadi (2008:168), faktor yang dapat menjadi pencetus seseorang merasa cernas dapat berasal dari diri sendiri (faktor internal) maupun dari luar dirinya (faktor eksternal). Namun demikian pencetus ansietas dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu:
1.      Ancaman terhadap integritas diri, meliputi ketidakrnampuan fisiologis atau gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari guna pemenuhan terhadap kebutuhan dasarnya.
2.      Ancaman terhadap sistem diri yaitu adanya sesuatu yang dapat mengancam terhadap identitas diri, harga diri, kehilangan status/peran diri, dan hubungan interpersonal.

Menurut Supratiknya (2008:80) reaksi umum individu terhadap ancaman-ancaman rasa sakit dan perusakan dari luar yang tak siap ditanggulangi ialah menjadi takut. Menghadapi ancaman biasanya orang merasa takut. Kewalahan menghadapi stimulasi berlebihan yang tidak berhasil dikendalikan oleh ego, maka ego menjadi diliputi kecemasan.
Dalam hal ini, yang meliputi kecemasan pasien trauma kapitis (post KLL) adalah ancaman integritas diri yang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari guna pemenuhan terhadap kebutuhan dasarnya, seperti bekerja, sekolah dan lain-lain. Selain itu, ancaman terhadap sistem diri juga meliputi kecemasan pasien. Ancaman terhadap sistem diri yang dimaksud adalah identitas diri, harga diri, kehilangan status/peran diri dan hubungan interpersonal.
Menurut Nursalam (2008) Alat ukur yang dipakai untuk mengetahui tingkat kecemasan menggunakan modifikasi Hamilton Rate Scale for Anxiety (HRSA) yang sudah dikembangkan oleh Psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ). Total nilai yang diperoleh menunjukkan tingkat keparahan : rendah (total nilai < 5); rendah sampai sedang (total nilai: 6-10); sedang sampai parah (total nilai: 11-15); dan sangat parah (total nilai > 16). dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS).

Jumat, 03 April 2015

GEMSTONES

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam hangat para pecinta batu...
     "Selagi masih ada orang yang mau menukar uang dengan batu kenapa tidak" itulah jawaban seorang penjual batu di Aceh ketika ditanya Alasan berdagang batu.. (Wah.. kalau di fikir-fikir benar juga tuh.., tapi bagi penggemar batu ketika ditanya alasan membeli batu, umumnya karena nilai estetika dari batu tersebut.
        Prinsipnya begini (menurut saya), apapun yang ada di dunia ini, sekalipun bukan barang berharga dapat diperjual belikan jika ada yang memerlukan dan ada barang yang diperlukan. Terserah, mo perlu untuk apa.. kembali kepada individunya masing-masing..
Berikut ini beberapa penampakan batu alam dari tanah rentjong..











Setelah melihat penampakannya, bagaimana menurut anda ? Indah bukan...
satu hal yang harus sama-sama kita ketahui, bahwa batu alam terjadi sedemikian rupa (mengkristal) melalui proses yang sangat lama. Penambang batunya juga harus menempuh jalan pencarian yang ekstrim untuk mendapatkan batunya (seperti di Panga-Aceh) para penambang batu harus menggali tanah sedalam +- 10 meter). Di daerah Nagan Raya, bahkan ada yang tertimpa batu dan meninggal ketika menurunkan batu tersebut dari bukit.
Ni ada sedikit penampakan mesin untuk pengolahan batu (Langsa-Aceh)



Minggu, 01 Februari 2015

TARIAN DAERAH EK U GLEE



BAB  I
PENDAHULUAN
Tarian daerah merupakan salah satu harta kekayaan berharga yang dimiliki setiap daerah di Indonesia. Tarian daerah Indonesia merupakan hasil cipta karsa dan karya dalam sebuah budaya. Sebagai negara kepulauan yang terdiri atas berbagai budaya, sudah tentu Indonesia memiliki ragam tarian daerah Indonesia. Tarian daerah Indonesia yang menjadi ciri khas dari setiap daerah yang ada di Indonesia, sekaligus sebagai identitas budaya.
Tidak hanya karya sastra seperti puisi yang sarat akan makna, karya seni tarian daerah Indonesia pun demikian. Tarian daerah Indonesia yang berupa gerakan yang harmonis merupakan gabungan dari suara jiwa dan alam sekitar. Maka, tidak jarang kita mendengar ada jenis tarian daerah Indonesia yang dianggap sakral dan wajib diadakan untuk acara-acara adat, seperti dalam acara perkawinan dan penyambutan tamu. Bahkan, tidak jarang pula tarian daerah indonesia menjadi simbol dari rangkaian peristiwa bersejarah seperti tari dalam pewayangan.
Tarian daerah Indonesia berasal dari zaman nenek moyang dulu yang ditujukan untuk mengungkapkan isi hati melalui gerakan yang harmonis dan sistematis. Tidak jarang juga tarian daerah Indonesia tercipta dari ritual-ritual religius yang telah dianut turun-temurun. Pada zaman nenek moyang belum dikenal media untuk mengeluarkan pendapat dan pikiran seperti sekarang ini, dan satu-satunya media yang digunakan adalah tarian daerah Indonesia. Jadi, jika mereka ingin mengungkapkan sesuatu, mereka menafsirkannya dengan cara menuangkannya dalam tarian, yang lama kelamaan menjadi tarian daerah Indonesia.
Saat ini tarian daerah Indonesia sudah lebih berkembang dan sudah memperlihatkan kemajuan, baik dalam hal variasi gerakan tarian, pakaian yang dikenakan, peralatan yang digunakan, serta filosofi yang melatarbelakangi terciptanya sebuah tarian daerah Indonesia. Tarian daerah Indonesia yang hanya dikenal dengan tarian tradisional, seiring perkembangan zaman memiliki warna baru, yaitu tarian kontemporer. Tarian kontemporer ini merupakan tarian yang memadukan tarian tradisional dengan gerakan-gerakan baru. Tarian kontemporer ini juga menjadi sebuah tarian daerah Indonesia yang dikembangkan oleh daerah.
Tarian daerah Indonesia sarat akan makna, yang bisa dilihat dari beberapa aspek, seperti gerakan tarian, kostum yang dikenakan oleh para penari, serta peralatan yang digunakan sebagai pengiring tarian daerah Indonesia. Makna yang terkandung dalam tarian daerah Indonesia juga bisa berupa pesan verbal dan nonverbal. Namun, secara keseluruhan, pesan yang terkandung dalam sebuah tarian daerah Indonesia lebih banyak bersifat nonverbal. Meskipun untuk beberapa tarian daerah Indonesia ada yang dibawakan sambil bersenandung seperti tarian daerah Indonesia di Jawa, atau ada tarian daerah Indonesia yang disertai dengan sorakan seperti halnya tarian daerah Indonesia dari Bali, sebagian Kalimantan (Dayak), dan Papua, tetapi makna pesan nonverballah yang lebih banyak keluar.
Begitu juga halnya dengan tarian yang berasal dari daerah Aceh. Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki Seni tari tradisional yang menarik dan populer, hal ini menunjukkan kreativitas anak bangsa di Aceh, meskipun jauh dari ibu kota dan merupakan salah satu wilayah paling ujung yang berbatasan langsung dengan Negara lain. Aceh memilki kultur dan seninya yang khas, sehingga hal ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang menjadi nilai wisata di aceh.
Dari berbagai budaya yang ada di aceh, seni tari merupakan salah satu budaya yang sangat populer dari wilayah ini yang mampu mewakili eksisteni seni di nusantara, tidak hanya itu, seni tari dari aceh sering kali dipertunjukkan di berbagai wilayah mancanegara. Seni budaya yang dimiliki ini menjadi paket-paket yang sangat menarik karena memperlihatkan ke khasannya tersendiri, proses pengolahannya menuntut kemampuan estetika dan pandangan kedepan yang sesuai dengan landasan ideal masyarakat dan tidak meyimpang dari ciri-ciri kepribadian masyarakat aceh yang Islami dan tidak menyimpan dari spirit keislaman dan ini terlihat jelas dalam berbagai tarian, baik sedati saman, debus, ranup lampuan dan taraian tradisional lainnya seperti ek u glee.



 
BAB  II
PEMBAHASAN
Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Dansa adalah tari asal kebudayaan Barat yang dilakukan pasangan pria-wanita dengan berpegangan tangan atau berpelukan sambil diiringi musik.
Seni tari adalah ungkapan jiwa yang mengandung unsur keindahan dalam bentuk gerakan yang teratur sesuai dengan irama yang mengiringinya. Tari adalah keindahan gerak anggota-anggota tubuh yang bergerak, berirama, dan berjiwa yang harmonis. Ada tiga unsur utama dalam tari, yaitu wiraga (fisik), wirama (iringan musik), dan wirasa (penjiwaan atau ekspresi). Gerak tari dan gerak biasa memiliki perbedaan dalam hal kehalusan, dinamika (irama dan tempo), dan iringan.
Tari tradisional adalah tari yang berkembang di daerah tertentu yang berpijak dan berpedoman luas pada adaptasi kebiasaan turun-temurun dan dianut oleh masyarakat pemilik tari tersebut. Tari tradisional dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1.      Tari tradisional klasik.
Ciri-ciri tari tradisional klasik adalah sebagai berikut.
Ø  Pola-pola gerak sudah ditentukan.
Ø  Memiliki nilai seni yang tinggi
Ø  Gerak yang diciptakan melampaui kebutuhan minimal yang dibutuhkan oleh konteksnya.
Ø  Tumbuh dan berkembang dari kalangan bangsawan
Ø  Ukuran-ukuran keindahannya melampaui batas-batas daerah.
2.      Tari tradisional folkasik (tari rakyat)
Ciri-ciri tari tradisiomal folkasik (tari rakyat) adalah sebagai berikut.
Ø  Pola-pola gerak sangat ditentukan dengan konteksnya, sehingga tari rakyat biasanya memiliki tema tertentu.
Ø  Bersifat sosial dan memiliki nilai seni yang sedang.
Ø  Perbendaharaan geraknya terbatas sekadar cukup untuk memberikan aksen kepada peristiwa-peristiwa adat yang khas dari suku bangsa yang bersangkutan.
Ø  Berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Ø  Terbatas pada wilayah adat tertentu.
Seperti halnya Tari “EK U GLEE” dari daerah Aceh, inti dari tarian ini menceritakan tentang para petani yang sedang panen. Tari Ek U Glee menceritakan tentang kehidupan dan kegiatan sehari-hari petani. Antara lain, berangkat dari rumah, bertanam padi, hingga panen. Tari ini umumnya menggambarkan proses para petani yang sedang bekerja mulai dari menanam, merawat, hingga memanen.
Tema yang diambil dalam tarian Ek U Glee adalah ungkapan rasa syukur petani (masyarakat Aceh) kepada Allah SWT atas panen yang berlimpah. Ragam gerak dalam tarian Ek U Glee memiliki makna, seperti gerakan mencangkul. Gerakan ini melambangkan para petani ketika sedang mengolah sawah. Selain itu ada juga gerakan menyemai. Gerak ini melambangkan bagaimana para petani menyemai benih padi yang akan di tanam.
Tarian Ek U Glee termasuk dalam tari tradisional folkasik (tari rakyat). Biasanya tarian ini dimainkan oleh sekelompok orang dan umumnya terdiri dari 5 orang, dengan catatan dua kelompok (4 orang) menggambarkan pola-pola gerak dan satu orang lainnya memperjelas atau mempertegas pola gerakan. Pola gerakan yang dimainkan tetap sama oleh setiap penari.

Jumat, 02 Januari 2015

SEKILAS PERKEMBANGAN PASAR TRADISIONAL LANGSA BARO

SEKILAS PERKEMBANGAN PASAR TRADISIONAL LANGSA BARO YANG TERLETAK DI GAMPONG GEUDUBANG ACEH KECAMATAN
LANGSA BARO KOTA LANGSA YANG DIRESMIKAN
OLEH BAPAK WALIKOTA LANGSA PADA
TANGGAL 4 APRIL 2014

Seminggu sebelum diresmikan Pasar Tradisional Langsa Baro telah diaktifkan oleh beberapa pedagang lokal dan beberapa pedagang luar yang di koordinir oleh saya Junaidi Hasan Pemuda Gampong Geudubang Aceh, mereka mengisi pasar dengan dagangan berupa : sayur-sayuran, bawang, tomat, cabe, ikan, ikan ayam, ikan daging, telur dan lain-lainnya, sehingga bertahan sampai ± 3 (tiga) bulan. Karena dagangan mereka banyak yang tidak laku sehingga modal habis setelah itu Pasar Tradisional Langsa Baro sepi sampai dengan saat ini.
Alasan sepi/tidak jalannya Pasar Tradisional Langsa Baro :
1.      Tidak lengkap/tersedia barang-barang yang dibutuhkan oleh pembeli/pedagang kecil yang ada di desa-desa lain / Desa seputaran Pasar Tradisional Langsa Baro.
2.      Pembeli di sekitar Pasar Tradisional Langsa Baro lebih memilih membeli barang/sayur-sayuran di kedai-kedai kecil yang ada di desa, walaupun harga lebih mahal dibandingkan dengan harga Pasar Tradisional Langsa Baro, karena sudah terikat utang bayar bulanan, sementara kalau belanja di Pasar Tradisional Langsa Baro dibayar kontan.
3.      Modal terbatas.
Antisipasi agar Pasar Tradisional Langsa Baro berjalan sesuai harapan masyarakat yang ada di sekitarnya :
1.      Segera dibangun ruko-ruko permanen di sekitar Pasar Tradisional Langsa Baro agar tersedia tempat-tempat grosir barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat dan pedagang-pedagang kecil yang ada di desa-desa sebagai pendukung Pasar Tradisional Langsa Baro.
2.      Mohon dibantu modal usaha dengan membentuk Koperasi Pasar.
3.      Penataan pasar yang belum tersedia, seperti tempat sampah, penerusan pagar BRC, penerusan parit dan penimbunan di sekitar Pasar Tradisional Langsa Baro.
Demikianlah informasi yang saya sampaikan tentang gambaran perkembangan Pasar Tradisional Langsa Baro, semoga Bapak dapat mewujudkan apa-apa yang menjadi kendala dalam perkembangan Pasar Tradisional Langsa Baro.



Gampong Geudubang Aceh
Kecamatan Langsa Baro
Tanggal 30 Desember 2014,
Tertanda




(JUNAIDI HASAN)