Temukan
Selasa, 29 November 2016
Senin, 28 November 2016
Rabu, 16 November 2016
PENGARUH PERSONAL HYGIENE TERHADAP PERILAKU PERSONALITY PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP) KLAS II B KOTA LANGSA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum, sehingga setiap kegiatan manusia atau masyarakat harus berdasarkan pada peraturan yang ada dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Salah satu bentuk tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat adalah kejahatan. Kejahatan adalah tingkah laku pada manusia yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat menentangnya. Akibatnya tentu akan diberikan hukuman dan mendekam dalam penjara atau Lembaga Pemasyarakatan.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan pada bab I pasal 1 point ketiga menyebutkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut Lapas adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan berperan untuk melakukan pembinaan, membimbing, mendidik, memperbaiki, memulihkan keadaan dan tingkah laku bagi para narapidana agar tidak mengulangi kesalahaannya, serta dapat kembali sebagai manusia yang berguna di tengah masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan menjadi salah satu tempat untuk mengembalikan narapidana pada kemampuan mengendalikan diri.
Program pembinaan kepribadian diberikan kepada warga binaan pemasyarakatan dengan harapan dapat menjadi manusia yang lebih baik dan menyadari kesalahannya, melalui usaha peningkatan kesadaran intelektual, beragama, bermasyarakat, hukum, kesadaran berbangsa dan bernegara, dengan memberantas faktor-faktor yang dapat menyebabkan narapidana berbuat hal yang bertentangan dengan hukum, kesusilaan, agama, atau kewajiban-kewajiban sosial lain yang dapat dikenakan pidana apabila dilanggar (Harsono, 1995:18).
Proses perubahan perilaku individu, dari manusia yang kurang baik menjadi manusia yang lebih baik tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya (bersikap). Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).
Hal ini juga berlaku dalam konsep promosi kesehatan. Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Oleh sebab itu, dalam rangka membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, intervensi atau upaya yang ditujukan kepada faktor perilaku ini sangat strategis. Intervensi terhadap faktor perilaku secara garis besar dapat dilakukan melalui dua upaya yang saling bertentangan. Masing-masing upaya tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kedua upaya tersebut dilakukan melalui paksaan (coertion) dan pendidikan (education) (Notoatmodjo, 2012:17-18).
Notoatmodjo (2012:29) juga menyebutkan bahwa lingkungan fisik, termasuk sarana dan prasarana untuk kesehatan sangat penting perannya dalam mempengaruhi kesehatan dan juga perilaku kesehatan. Karena dengan penyuluhan kesehatan atau pemberian informasi kesehatan hanya mampu meningkatkan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat dan untuk terwujudnya pengetahuan kesehatan menjadi perilaku (praktik atau tindakan) kesehatan memerlukan sarana dan prasarana (lingkungan fisik).
Lingkungan lembaga pemasyarakatan pada umumnya kurang higienis dan kurang terpelihara akibat jumlah penghuni kamar yang melebihi kapasitas. Tidak berbeda halnya dengan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa. Berdasarkan survei awal yang dilakukan, dapat diketahui bahwa saat ini narapidana penghuni Lapas klas II B Langsa sudah mencapai 394 orang, sementara jumlah tempat penampungan hanya tersedia 20 kamar. Menurut petugas lapas, kondisi ini sudah overcapacity atau melebihi daya tampung.
Sanitasi yang kurang higienis berkaitan dengan penularan penyakit karena akses terhadap sanitasi layak merupakan salah satu pondasi inti dari masyarakat yang sehat. Sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Sanitasi berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2015:176). Istilah Hygiene dan sanitasi mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengusahakan cara hidup sehat sehingga terhindar dari penyakit, tetapi dalam penerapannya mempunyai arti yang sedikit berbeda. Usaha sanitasi lebih menitik beratkan pada faktor lingkungan hidup manusia, sementara hygiene lebih menitik beratkan pada usaha-usaha kebersihan perorangan (personal hygiene).
Menurut Christy, et al (2015:479), kebersihan diri adalah upaya seseorang dalam memelihara kebersihan dan kesehatan dirinya untuk memperoleh kesejahteraan fisik dan psikologis. Pemenuhan kebersihan diri diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene antara lain (1) body image, yaitu gambaran individu terhadap dirinya yang mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. (2) praktik sosial, yaitu pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. (3) status sosial ekonomi, yaitu personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. (4) pengetahuan, yaitu pengetahuan mengenai personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. (5) budaya, yaitu pada sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh mandi. (6) kebiasaan seseorang, yaitu ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain-lain. (7) kondisi fisik atau psikis, yaitu pada keadaan tertentu atau sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Personal hygiene menurut Sajida (2012:9-10) meliputi kebersihan kulit, kebersihan rambut, kebersihan gigi, kebersihan telinga dan kebersihan tangan, kaki, dan kuku. Tujuan personal hygiene adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan, memelihara kebersihan diri, memperbaiki personal hygiene yang kurang, mencegah penyakit, menciptakan keindahan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Kepribadian (personality) seseorang merupakan unsur penting pembentuk perilaku.
Aspek-aspek kepribadian, menurut Wikipedia (2015) mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas dan sosiabilitas. Setiap individu memiliki ciri-ciri kepribadian tersendiri, mulai dari yang menunjukkan kepribadian yang sehat atau justru yang tidak sehat. Perilaku personality akan mempengaruhi upayanya dalam menyelesaikan berbagai masalah yang menimpanya, juga untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, jika seseorang tidak mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik atau kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, dikhawatirkan bisa saja menempuh cara yang salah untuk menyelesaikan masalahnya, yang akhirnya hanya akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain yang ada di sekitarnya.
Perilaku personality narapidana di Lembaga Pemasyarakatan sangat terpengaruh dengan keadaan emosi yang tidak stabil. Seorang narapidana selama di pidana akan kehilangan kepribadian dan identitas diri (lost of personality), akibat peraturan dan tata cara hidup di Lembaga Pemasyarakatan, Kondisi psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk berperilaku juga dipengaruhi oleh struktur kepribadiannya. Jika struktur kepribadiannya sehat, tentu akan memiliki mental yang sehat sehingga kelak ketika narapidana tersebut bebas, ia mampu menyelesaikan masalahnya dengan baik.
Jurnal yang dipublikasikan oleh Devy Meylina Christy, et al (2015) dengan judul Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Skin Personal Hygiene Management terhadap Tindakan Perawatan Diri pada Narapidana Penderita Skabies di Lembaga Pemasyarakatan Klas II-A Jember menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang Skin Personal Hygiene Management terhadap tindakan perawatan diri pada narapidana penderita skabies di Lembaga Pemasyarakatan Klas II-A Jember. Tindakan perawatan diri pada kelompok perlakuan dikategorikan 100% baik, sementara pada kelompok kontrol 90,9% dikategorikan cukup. Disarankan bahwa perawat dapat memberikan Skin Personal Hygiene Management untuk meningkatkan tindakan perawatan diri yang mana dapat mencegah infeksi skabies dan menggunakan Skin Personal Hygiene Management sebagai program pendidikan kesehatan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Zulfah (2008) dengan judul Perencanaan Perbekalan Obat di Poliklinik Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Narkotika Jakarta Tahun 2007, menemukan bahwa Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat yang rentan dalam penyebaran penyakit. Hasil studinya menunjukkan bahwa narapidana menderita penyakit kulit, berkaitan dengan perilaku yang mereka lakukan sebelum masuk atau selama mendekam di Lembaga Pemasyarakatan sehingga proses penularan penyakit sangat mudah terjadi.
Hasil kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat yang rentan dalam penyebaran penyakit. Oleh karena itu diperlukan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan orang dan membuat keputusan yang tepat sehubungan dengan pemeliharaan kesehatan. outputnya diharapkan narapidana dapat memelihara dan meningkatkan kesehatan atau dapat dikatakan berperilaku kondusif.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk mengetahui lebih lanjut keterkaitan antara personal hygiene dan perilaku personality khususnya pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Kota Langsa.
1.2. Rumusan Masalah
Sehat memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kondisi sanitasi yang kurang higienis berkaitan dengan penularan penyakit. Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang adalah perilaku personal hygiene, maka perumusan masalah yang dapat dikembangkan adalah bagaimana pengaruh personal hygiene terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh personal hygiene terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa
1.3.2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis pengaruh body image terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
2. Menganalisis pengaruh praktik sosial terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
3. Menganalisis pengaruh status sosial ekonomi terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
4. Menganalisis pengaruh pengetahuan terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
5. Menganalisis pengaruh budaya terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
6. Menganalisis pengaruh kebiasaan seseorang terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
7. Menganalisis pengaruh kondisi fisik atau psikis terhadap perilaku personality pada narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Sebagai masukan bagi narapidana agar berusaha memperbaiki kebiasaan hidup yang merugikan bagi kesehatan sehingga dapat menjaga kesehatan diri khususnya yang berkaitan dengan perilaku personality.
2. Sebagai bahan evaluasi dan masukan bagi lembaga pemasyarakatan dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perilaku personality narapidana khususnya narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Kota Langsa.
DAFTAR PUSTAKA
Christy, et al. 2015. Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Skin Personal Hygiene Management terhadap Tindakan Perawatan Diri pada Narapidana Penderita Skabies di Lembaga Pemasyarakatan Klas II-A Jember. e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol.3 (no.3), September, 2015.
Fitriani, Sinta. 2011. Promosi kesehatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Harsono. 1995. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan.
Kartono, K. 2003. Patologi Sosial. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kemenkes RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sajida, Agsa. 2012. Hubungan Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Keluhan Penyakit Kulit di Kelurahan Denai Kecamatan Medan Denai Kota Medan Tahun 2012. Skripsi Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
Wikipedia. 2015. Kepribadian. Diakses melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Kepribadian pada tanggal 1 Nopember 2016.
Zulfah, Amalia. 2008. Perencanaan Perbekalan Obat di Poliklinik Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Narkotika Jakarta Tahun 2007. Jakarta: Universitas Indonesia.
TOPIK
Warga binaan pemasyarakatan sebagai insan dan sumber daya manusia harus diperlakukan dengan baik dan manusiawi dalam satu sistem pembinaan yang terpadu termasuk dalam hal upaya kesehatan. Banyaknya sarana dan prasarana di Lembaga Pemasyarakatan yang kurang layak digunakan khususnya permasalahan sanitasi, dikhawatirkan tidak dapat mendukung perbaikan perilaku warga binaan tersebut, sehingga ketika keluar dari Lembaga Pemasyarakatan, warga binaan tersebut akan mengulangi perbuatan yang melanggar pidana.
Masalah kesehatan memang sangat kompleks dan saling berkaitan dengan masalah-masalah di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya dilihat dari segi kesehatan itu sendiri tapi harus dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap kesehatan tersebut. Teori klasik yang dikembangkan oleh Blum (1974) mengatakan bahwa ada empat determinan utama yang mempengaruhi derajat kesehatan individu, kelompok atau masyarakat. Empat determinan tersebut diurut berdasarkan besarnya pengaruh terhadap kesehatan adalah (1) Lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan non fisik (sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya), (2) Perilaku, (3) Pelayanan Kesehatan dan (4) Keturunan atau herediter.
Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat hendaknya juga dialamatkan kepada empat faktor tersebut. Dengan kata lain, intervensi atau upaya kesehatan masyarakat juga harus dikelompokkan menjadi empat intervensi tersebut.
PENGARUH PERSONAL HYGIENE TERHADAP PERILAKU PERSONALITY PADA NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LP) KLAS II B
KOTA LANGSA
PROPOSAL
NONA RITA KURNIA
NPM. 1610210015
PROGRAM STUDI MAGISTER KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANDA ACEH
TAHUN 2016
Sabtu, 01 Oktober 2016
DAFTAR SINGKATAN (kesehatan umum)
AKABA : Angka Kematian Balita
AKB : Angka Kematian Bayi
AKDR : Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
AKI : Angka Kematian Ibu
ANC : Antenatal Care
APD : Alat Pelindung Diri
APGAR : Apparnce, Pols, Grimace, Activity, Respiration
APN : Asuhan Persalinan Normal
ASEAN : Asosiation South East Asian Nation
ASI : Air Susu Ibu
BAB : Buang Air Besar
BAK : Buang Air Kecil
BAKSOKU : Bidan, Alat, Keluarga, Surat, Obat, Kendaraan, Uang
BBL : Bayi Baru Lahir
BPS : Bidan Praktek Swasta
BY : Bayi
CM : Centimeter
DEPKES RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
DINKES : Dinas Kesehatan
DJJ : Denyut Jantung Janin
DMPA : Depo Mendroksi Progesteron Asetat
DTT : Desinfektan Tingkat Tinggi
GPA : Gravida, Partus, Abortus
HB : Hemoglobin
HCG : Hormon Corionic Gonadtrophin
HDI : Human Development Index
HIV/AIDS : Human Immunodeficincy Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome
HPHT : Hari Pertama Haid Terakhir
HPL : Hari Perkiraan Lahir
IM : Intra Muscular
IMD : Inisiasi Menyusui Dini
INC : Intranatal Care
IPM : Indek Pembangunan Manusia
IUD : Intra Uterine Divice
K : Kunjungan Kehamilan
KB : Keluarga Berencana
KBA : Keluarga Berencana Alamiah
KEK : Kurang Energi Kronik
KEMENKES RI : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
KF : Kunjungan Nifas
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KIE : Konseling Informasi Edukasi
KG : Kilogram
KK : Kartu Keluarga
KN : Kunjungan Neonatus
MMHG : Mili Meter Hectogram
MOW : Metode Operasi Wanita
MTBM : Manajemen Terpadu Bayi Muda
NY : Nyonya
PAP : Pintu Atas Panggul
PMS : Penyakit Menular Seksual
PNC : Post Natal Care
PUS : Pasangan Usia Subur
PUKA : Punggung Kanan
PUKI : Punggung Kiri
RR : Respiration Rate
SDKI : Survei Demografi Kesehatan Indonesia
SOAP : Subjek, Objek, Asesment, Planning
TBBJ : Tafsiran Berat Badan Janin
TD : Tekanan Darah
TEMP : Temperatur
TFU : Tinggi Fundus Uteri
TT : Tetanus Toxoid
TTP : Tafsiran Tanggla Persalinan
TTV : Tanda-Tanda Vital
USG : Ultra Sonografi
WHO : World Health Organisation
Minggu, 14 Agustus 2016
HUBUNGAN FASILITAS PUSKESMAS DAN PENDAPATAN JASA JKN TERHADAP TARGET SPM DI UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA #4
BAB IV
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah analitik yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota dengan pendekatan penelitian secara cross sectional yaitu melakukan pengukuran atau pengamatan dalam sewaktu.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di UPTD Puskesmas Langsa Kota sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan terhitung mulai dari bulan Mei sampai Juni tahun 2016.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan di UPTD Puskesmas Langsa Kota yang berjumlah 144 orang.
Untuk menentukan besar sampel penelitian digunakan rumus Slovin, yaitu :
n=N/〖1+N(d)〗^2
Keterangan :
n : besar sampel
N : besar populasi
d : tingkat kepercayaan (10%)
n=144/〖1+144(0,1)〗^2
n=144/(1+1,44)
n=59,01≈59
Hasil perhitungan jumlah sampel di atas didapatkan jumlah sampel dibutuhkan adalah 59 responden. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive sampling (secara sengaja) yang disesuaikan dengan karakteristik sampel dengan kriteria pemilihan tertentu.
Agar karakteristik sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan pengambilan sampel perlu ditentukan kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi. Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel. Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel. Dalam penelitian ini yang menjadi kriteria inklusinya adalah :
Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Bersedia menjadi responden.
Sedangkan yang menjadi kriteria eksklusinya adalah :
Masa kerja sebagai karyawan di UPTD Puskesmas Langsa Kota kurang dari setahun (12 bulan
Tidak bersedia menjadi responden.
Alat dan Metode Pengumpulan Data
Alat Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai :
Kuesioner data demografi responden meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, unit kerja/bagian, jabatan, lama bekerja dan status kepegawaian.
Kuesioner kinerja staf UPTD Puskesmas Langsa Kota terdiri dari 4 bagian, yaitu kualitas (5 pertanyaan), kuantitas (8 pertanyaan), waktu kerja (7 pertanyaan) dan kerja sama (8 pertanyaan). Penilaian kuesioner tersebut meliputi
Penilaian oleh Atasan / Kepala Puskesmas (penilaian mengarah kebawah).
Penilaian Rekan Sekerja (penilaian setara).
dan Penilaian Oleh Diri Sendiri.
Kuesioner kinerja staf UPTD Puskesmas Langsa Kota yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang di adopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Imas Wirdaningsih (2012) dari Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan.
Kuesioner Fasilitas terdiri dari 2 pertanyaan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka (essay).
Kuesioner Lingkungan Kerja terdiri dari 2 pertanyaan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka (essay).
Kuesioner Prioritas Kerja terdiri dari 2 pertanyaan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka (essay).
Kuesioner Supportive Boss terdiri dari 2 pertanyaan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka (essay).
Kuesioner Bonus Kerja terdiri dari 2 pertanyaan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka (essay).
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Wawancara dilakukan kepada responden penelitian. Dalam Pelaksanaan penelitian, untuk memperoleh data yang diperlukan akan dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
Persiapan materi melalui studi dokumentasi dan studi pustaka yang mendukung penelitian
Surat izin penelitian dari STIKes Bustanul Ulum Langsa untuk pengambilan data di Puskesmas Langsa Kota.
Setelah mendapatkan surat izin, kemudian peneliti menjumpai calon responden dan memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan peneliti dan meminta kesediaan responden untuk berpartisipasi dalam penelitian dengan menandatangani lembar persetujuan responden.
Responden yang bersedia berpartisipsi di dalam penelitian ini akan diberi penjelasan tentang tata cara pengisian kuesioner.
Pengisian dilakukan dengan cara, peneliti membacakan pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya, sementara responden hanya memberikan jawaban dari pertanyaan yang diajukan lalu peneliti akan memberikan tanda pada pilihan jawaban responden.
Apabila dalam wawancara tersebut responden mengalami kesulitan untuk memahami pertanyaan yang ada, maka peneliti menjelaskan kembali pertanyaan tersebut secara menyederhanakan lagi, sehingga responden benar-benar mengerti.
Setelah lembar kuesioner selesai terisi, peneliti mengoreksi kembali jawaban responden, untuk memastikan bahwa lembar kuesioner benar-benar terisi secara lengkap, dan apabila terdapat pertanyaan yang belum terisi maka peneliti meminta kepada responden untuk melengkapi jawabannya.
Setelah seluruh keperluan mengenai kuesioner lengkap, selanjutnya peneliti mengucapkan terima kasih kepada responden atas partisipasinya.
Semua data diterminasi, dihitung kemudian dilakukan analisis statistik dengan menggunakan komputer.
Setelah analisa statistik selesai kemudian dibuat pembahasan dan kesimpulan yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, tabulasi silang dan narasi.
Metode Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program statistik komputer, yaitu SPSS for window. Proses pengolahan data ini menurut Notoatmodjo (2010) melalui tahap-tahap sebagai berikut :
Editing
Secara umum editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner. Proses editing dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga jika ada kekurangan dapat segera dilengkapi.
Coding
Pengkodean atau coding yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya diklasifikasikan menurut macamnya. Klasifikasi dilakukan dengan jalan menandai masing-masing dengan kode berupa angka kemudian memasukkan kedalam lembar tabel kerja guna mempermudah untuk membacanya.
Entry
Entry data merupakan proses memasukkan data yang sudah terkumpul kedalam komputer untuk dianalisa. Yaitu jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk kode (angka/huruf) di masukkan kedalam program atau software komputer.
Cleaning
Yaitu apabila semua data dari setiap sumber data atau responden selesai dimasukan, perlu di cek kembali untuk melihat kemungkinan kesalahan-kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.
Analisa Data
Data yang telah terkumpul dianalisa menggunakan analisa univarit dan analisa bivariat menggunakan bantuan aplikasi komputer yaitu program Statistik Product Service Solution (SPSS). Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Analisa Univariat
Analisa univariat adalah suatu prosedur untuk menganalisa data dari suatu variabel yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu hasil penelitian dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase (%) dari masing-masing variabel dengan memakai rumus persentase yaitu :
P= f/n x 100%
Keterangan :
P : Presentase
f : frekuensi tiap kategori
n : jumlah sampel
Analisa Bivariat
Analisa bivariat pada penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Pendapatan Jasa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota melalui uji statistik yaitu uji Chi square. Uji Chi square digunakan untuk menganalisa hubungan katagorik dengan katagorik. Pembuktian uji Chi square dilakukan dengan menggunakan formula :
Mencari chi square dengan rumus :
X^2=∑▒〖(f_o-f_e)〗^2/f_e
Keterangan :
X2 : nilai Chi square
fo : frekuensi yang diobservasi
fe : frekuensi yang diharapkan
Mencari nilai X2 tabel dengan rumus :
dk=(k-1)(b-1)
Keterangan :
k : banyaknya kolom
b : banyaknya baris
Untuk mengetahui Pengaruh Variabel Fasilitas terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota, digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05) :
Apabila p < 0,05 = Ho ditolak, berarti Ada Pengaruh Fasilitas terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Apabila p ≥ 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti Tidak Ada Pengaruh Fasilitas terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Untuk mengetahui Pengaruh Variabel Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota, digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05) :
Apabila p < 0,05 = Ho ditolak, berarti Ada Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Apabila p ≥ 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti Tidak Ada Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Untuk mengetahui Pengaruh Variabel Prioritas Kerja terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota, digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05) :
Apabila p < 0,05 = Ho ditolak, berarti Ada Pengaruh Prioritas Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Apabila p ≥ 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti Tidak Ada Pengaruh Prioritas Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Untuk mengetahui Pengaruh Variabel Supportive Boss terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota, digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05) :
Apabila p < 0,05 = Ho ditolak, berarti Ada Pengaruh Supportive Boss terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Apabila p ≥ 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti Tidak Ada Pengaruh Supportive Boss terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Untuk mengetahui Pengaruh Variabel Bonus terhadap Kinerja Staf UPTD Puskesmas Langsa Kota, digunakan taraf signifikan yaitu α (0,05) :
Apabila p < 0,05 = Ho ditolak, berarti Ada Pengaruh Bonus terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Apabila p ≥ 0,05 = Ho diterima atau gagal menolak Ha, berarti Tidak Ada Pengaruh Bonus terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Aturan yang berlaku pada uji chi-square dalam program Statistik Product Service Solution (SPSS) adalah sebagai berikut:
Bila pada tabel 2x2 dijumpai nilai e (harapan) kurang dari 5, maka uji yang digunakan adalah Fisher Exact Test.
Bila pada tabel 2x2, dan tidak ada nilai e <5, maka uji yang dipakai sebaiknya Continuity Correction.
Bila tabel lebih dari 2x2, misalnya 3x2 dan lain-lain, maka digunakan uji Pearson Chi Square.
Uji “ Likelihood Ratio “ dan “ Linear-by-Linear Assciation “, biasanya digunakan untuk keperluan lebih spesifik, misalnya analisis stratifikasi pada bidang epidemiologi dan juga untuk mengetahui hubungan linier dua variabel katagorik, sehingga kedua jenis ini jarang digunakan.
HUBUNGAN FASILITAS PUSKESMAS DAN PENDAPATAN JASA JKN TERHADAP TARGET SPM DI UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA #3
BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh sebab itu, konsep tidak dapat diukur dan diamati secara langsung. Agar dapat diamati dan dapat diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan ke dalam variabel-variabel. Dari variabel itulah konsep dapat diamati dan diukur. Kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Skema 3.1
Kerangka Konsep Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
UPTD Puskesmas Langsa Kota
Variabel Independen Variabel Dependen
B. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen (bebas) dan variabel dependen (terikat). Variabel bebasnya adalah Fasilitas, Lingkungan Kerja, Prioritas Kerja, Supportive Boss dan Bonus. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kinerja Karyawan.
C. Cara Pengukuran
Pengukuran faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan dilakukan dengan memberikan wawancara kepada para karyawan di UPTD Puskesmas Langsa Kota. Wawancara yang diberikan meliputi :
1. Variabel Fasilitas
Fasilitas Kerja adalah sarana pendukung dalam aktivitas perusahaan berbentuk fisik, dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan, memiliki jangka waktu kegunaan yang relatif permanen, dan memberikan manfaat untuk masa yang akan datang. Untuk mengukur variabel Fasilitas kerja diberikan 2 pertanyaan yang mendukung karyawan di fasilitas kesehatan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka. Penilaian hanya diberikan pada pertanyan pertama dengan kategori sebagai berikut :
Mendukung : Jika responden menjawab Ya
Tidak Mendukung : Jika responden menjawab Tidak
2. Variabel Lingkungan Kerja
Lingkungan Kerja adalah kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Untuk mengukur variabel lingkungn kerja diberikan 2 pertanyaan yang mempengaruhi lingkungan kerja karyawan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka. Penilaian hanya diberikan pada pertanyan pertama dengan kategori sebagai berikut :
Mendukung : Jika responden menjawab Ya
Tidak Mendukung : Jika responden menjawab Tidak
3. Variabel Prioritas Kerja
Prioritas Kerja adalah skala prioitas dalam menentukan pekerjaan yang harus di dahulukan. Untuk mengukur variabel prioritas kerja diberikan 2 pertanyaan mengenai skala prioitas dalam menentukan pekerjaan yang harus di dahulukan oleh karyawan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka. Penilaian hanya diberikan pada pertanyan pertama dengan kategori sebagai berikut :
Mendukung : Jika responden menjawab Ya
Tidak Mendukung : Jika responden menjawab Tidak
4. Variabel Supportive Boss
Supportive Boss adalah dukungan karyawan yang diberikan kepada Kepala Puskesmas. Untuk mengukur variabel Supportive Boss diberikan 2 pertanyaan mengenai dukungan-dukungan yang diberikan kepada Kepala Puskesmas dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka. Penilaian hanya diberikan pada pertanyan pertama dengan kategori sebagai berikut :
Mendukung : Jika responden menjawab Ya
Tidak Mendukung : Jika responden menjawab Tidak
5. Variabel Bonus
Bonus adalah uang dibayar sebagai balas atas hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan apabila melebihi target. Untuk mengukur variabel bonus diberikan 2 pertanyaan mengenai uang yang dibayarkan sebagai balas atas hasil pekerjaan karena melebihi target yang terdiri dari 1 pertanyaan dengan pilihan jawaban Ya dan Tidak dan 1 pertanyaan lainnya merupakan pertanyaan terbuka. Penilaian hanya diberikan pada pertanyan pertama dengan kategori sebagai berikut :
Mendukung : Jika responden menjawab Ya
Tidak Mendukung : Jika responden menjawab Tidak
6. Variabel Kinerja Karyawan
Kinerja merupakan tingkat keberhasilan individu yang dalam hal ini karyawan UPTD Puskesmas Langsa Baro dalam melaksanakan pekerjaannya. Untuk mengukur kinerja pegawai menggunakan skala guttman yang terdiri dari pilihan jawaban Ya dan Tidak. Variabel kinerja terdiri atas 4 sub variabel pengukuran, yaitu kualitas (5 pertanyaan), kuantitas (8 pertanyaan), waktu kerja (7 pertanyaan) dan kerjasama (8 pertanyaan) yang masing-masing kuesioner diberikan penilaian oleh atasan/Kepala Puskesmas (penilaian mengarah kebawah), penilaian oleh rekan sekerja (penilaian setara) dan penilaian oleh diri sendiri.
Metode pengukuran dari variabel kinerja adalah sebagai berikut :
- Bila jawaban ’’ Ya ’’ diberi nilai 1
- Bila jawaban ’’ Tidak ’’ diberi nilai 0
- Skor tertinggi = jumlah pertanyaan kali bobot tertinggi
- Skor terendah = jumlah pertanyaan kali bobot terendah
- Kriteria objektif dibagi 3 (tiga) kategori : Baik/ Sedang/ Buruk
Jumlah item pertanyaan adalah (5x3) + (8x3) + (7x3) + (8x3) = 84. Dari total 84 item dengan skor nilai Tertinggi adalah 84 dan Terendah adalah 0, lalu dikategorikan sebagai berikut :
Baik : Jika responden memperoleh jumlah skor 57-84.
Sedang : Jika responden memperoleh jumlah skor 28-56.
Buruk : Jika responden memperoleh jumlah skor 0-27.
D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Yang menjadi hipotesis dalam penelitin ini adalah sebagai berikut :
1. Variabel Fasilitas terhadap Kinerja
Ho : Tidak Ada Pengaruh Fasilitas terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Ha : Ada Pengaruh Fasilitas terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
2. Variabel Lingkungan Kerja terhadap Kinerja
Ho : Tidak Ada Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Ha : Ada Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
3. Variabel Prioritas Kerja terhadap Kinerja
Ho : Tidak Ada Pengaruh Prioritas Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Ha : Ada Pengaruh Prioritas Kerja terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
4. Variabel Supportive Boss terhadap Kinerja
Ho : Tidak Ada Pengaruh Supportive Boss terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Ha : Ada Pengaruh Supportive Boss terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
5. Variabel Bonus terhadap Kinerja
Ho : Tidak Ada Pengaruh Bonus terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Ha : Ada Pengaruh Bonus terhadap Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota.
E. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
UPTD Puskesmas Langsa Kota
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur Hasil Ukur
1 2 3 4 5 6 7
Variabel Dependen
1 Kinerja Karyawan Tingkat keberhasilan karyawan UPTD Puskesmas Langsa Baro dalam melaksanakan pekerjaannya Wawan cara
Kuesioner Dengan Skala Guttman
Ya = 1
Tidak = 0 Ordinal - Baik : 57-84
- Sedang : 28-56
- Buruk : 0-27
(Wirdaningsih, 2012)
Variabel Independen
2 Fasilitas Sarana pendukung untuk meningkatkan kinerja Wawan cara Kuesioner Ordinal - Mendukung
- Tidak Mendukung
Gunawan (2013)
3 Lingkungan Kerja Ruang lingkup kehidupan sosial, psikologi, dan fisik untuk meningkatkan kinerja Wawan cara Kuesioner Ordinal - Mendukung
- Tidak Mendukung
Gunawan (2013)
4 Prioritas Kerja Urutan pekerjaan yang harus di dahulukan untuk meningkatkan kinerja Wawan cara Kuesioner Ordinal - Mendukung
- Tidak Mendukung
Gunawan (2013)
5 Supportive Boss Dukungan yang diberikan kepada Kepala Puskesmas Wawan cara Kuesioner Ordinal - Mendukung
- Tidak Mendukung
Gunawan (2013)
6 Bonus Imbalan atas hasil pekerjaan yang melebihi target Wawan cara Kuesioner Ordinal - Mendukung
- Tidak Mendukung
Gunawan (2013)
HUBUNGAN FASILITAS PUSKESMAS DAN PENDAPATAN JASA JKN TERHADAP TARGET SPM DI UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA #2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kinerja
Istilah kinerja berasal dari job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang). Pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2009).
Kinerja/Performance adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Setiap individu yang diberi tugas atau kepercayaan untuk bekerja pada suatu organisasi tertentu diharapkan mampu menunjukan kinerja yang memuaskan dan memberikan kontribusi yang maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi tersebut. Kinerja adalah tingkat keberhasilan atau kelompok orang dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya serta kemampuan untuk mencapai tujuan dan standar yang telah tetapkan (Sulistiani, 2011).
Kinerja sebagai tingkat keberhasilan individu dalam melaksanakan pekerjaannya (Sutrisno, 2011). Secara umum dapat dinyatakan empat aspek dari kinerja yaitu :
1. Kualitas yang dihasilkan
Menerangkan tentang jumlah kesalahan, waktu, dan ketepatan dalam melakukan tugas.
2. Kuantitas yang dihasilkan
Berkenaan dengan berapa jumlah produk atau jasa yang dihasilkan.
3. Waktu kerja
Menerangkan akan berapa jumlah absen, keterlambatan, serta masa kerja yang telah dijalani individu pegawai tersebut.
4. Kerja sama
Merupakan ikatan jangka panjang bagi semua komponen perusahaan dalam melakukan berbagai aktifitas kerja. Kerjasama merupakan tuntutan bagi keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, sebab dengan adanya kerjasama yang baik akan memberikan kepercayaan (trust) pada berbagai pihak yang berkepentingan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan.
Menurut Wirdaningsih (2012) ada tiga perangkat variabel yang mempengaruhi perilaku dan prestasi kerja (kinerja) yaitu :
1. Variabel individual meliputi kemampuan dan keterampilan (mental dan fisik), latar belakang (keluarga, tingkat sosial, penggajian) dan demografis (umur, asal-usul, jenis kelamin).
2. Variabel organisasional meliputi sumber daya, kepeminpinan, imbalan, struktur, dan desain pekerjaan.
3. Variabel psikologis meliputi persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.
Penilaian kinerja (Prestasi kerja) adalah proses oleh organisasi untuk mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Penilaian kinerja mengacu pada suatu sistem formal dan terstruktur yang digunakan untuk mengukur, menilai dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku dan hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran (Samsudin, 2010).
Menurut Samsudin (2010), terdapat 10 (sepuluh) manfaat yang dapat dipetik dari penilaian kerja, yaitu sebagai berikut :
1. Perbaikan Prestasi Kerja
2. Penyesuaian kompensasi
3. Keputusan penempatan
4. Kebutuhan latihan dan pengembangan
5. Perencanaan dan pengembangan karier
6. Penyimpanan proses staffing
7. Ketidakakuratan informasional
8. Kesalahan desain pekerjaan
9. Kesempatan kerja yang adil
10. Tantangan eksternal
Ada beberapa metode dalam penilaian kinerja, menurut Wirdaningsih (2012), yaitu :
1. Rating Scales (skala rating)
2. Critical Incidents (insiden-insiden kritis)
3. Work Standar (standar kerja)
4. Ranking, Forced Distribution (distribusi yang dipaksakan)
5. Forced-choice and Weighted Checklist Performance Report (pemilihan yang dipaksakan dan laporan pemeriksaan kinerja tertimbang)
6. Behaviorally Anchored Scales
7. Metode Pendekatan Management By Objective
Pendekatan penilaian kinerja 360 derajat menurut Wirdaningsih (2012) merupakan bentuk pendekatan yang diharapkan dapat mengurangi bias dan subjektifitas dari penilaian kinerja dengan pendekatan atas-bawah. Secara defenisi penilaian kinerja 360 derajat dapat diartikan sebagai proses yang melibatkan kegiatan pengumpulan data-data perihal persepsi atas perilaku seseorang atau individu serta dampak perilaku tersebut kepada atasan (pimpinan), kolega (peers), bawahan dan anggota-anggota lain dalam satu tim. Ada 4 (empat) elemen yang mendasari sisitem penilaian kinerja 360 derajat :
1. Penilaian ke atas (upward appraisal)
Penilaian yang dilakukan bawahan terhadap hasil dan pencapaian atasannya.
2. Penilaian mengarah kebawah (downward appraisal)
Format penilaian tradisional dimana atasan menilai bawahan.
3. Penilaian setara (peer appraisal)
Penilaian yang diberikan kepada seorang karyawan oleh rekan sekerjanya.
4. Penilaian oleh diri sendiri (self appraisal)
Penilaian yang diberikan oleh pribadi tiap pegawai mengenai hasil pencapaiannya sekarang dan rencana jangka panjang.
Desain pekerjaan yang ideal selalu memperhatikan :
1. Tanggung jawab
Serentetan pernyataan tertulis tentang tugas yang akan dikerjakan, mengandung informasi tentang tanggung jawab yang diemban oleh pegawai/ pekerja yang bersangkutan.
2. Urutan kegiatan/ prosedur kerja (SOP)
Informasi yang rinci tentang urutan kegiatan atau prosedur kerja, yang dilengkapi dengan informasi yang lebih rinci seperti langkah-langkah tekhnis, alternatif jalan keluar yang mungkin timbul dalam pelaksanaan pekerjaan.
3. Standar kualitas pekerjaan
Merupakan derajat ukur kerja, dengan derajat inilah suatu kinerja dinilai baik atau buruk, sesuai dengan prosedur atau tidak, sah atau melanggar aturan, layak jual atau tidak. Standar kualitas kerja biasanya mengacu pada produk akhir suatu pekerjaan, tetapi kadangkala standar kualitas ini dibuat untuk menilai suatu proses pekerjaan
Kinerja sebagai tingkat keberhasilan individu dalam melaksanakan pekerjaannya. Secara umum dapat dinyatakan 4 (empat) aspek dari kinerja yaitu :
1. Kualitas yang dihasilkan
Menerangkan tentang jumlah kesalahan, waktu, dan ketepatan dalam melakukan tugas.
2. Kuantitas yang dihasilkan
Berkenaan dengan berapa jumlah produk atau jasa yang dihasilkan.
3. Waktu kerja
Menerangkan akan berapa jumlah absen, keterlambatan, serta masa kerja yang telah dijalani individu pegawai tersebut.
4. Kerja sama
Merupakan ikatan jangka panjang bagi semua komponen perusahaan dalam melakukan berbagai aktifitas kerja. Kerjasama merupakan tuntutan bagi keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan, sebab dengan adanya kerjasama yang baik akan memberikan kepercayaan (trust) pada berbagai pihak yang berkepentingan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan.
Penilaian kinerja staf UPTD Puskesmas Langsa Kota dilakukan dengan menilai aspek dari kinerja, yaitu :
1. Kualitas yang dihasilkan
2. Kuantitas yang dihasilkan
3. Waktu kerja dan
4. Kerja sama
Penilaian dilakukan melalui 4 (empat) elemen yang mendasari sisitem penilaian kinerja 360 derajat, yaitu :
1. Penilaian ke atas (upward appraisal).
2. Penilaian mengarah kebawah (downward appraisal).
3. Penilaian setara (peer appraisal).
4. Penilaian oleh diri sendiri (self appraisal).
Perusahaan yang baik harus mampu mengukur setiap kinerja karyawannya, karena hal ini merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah sebuah target yang diberikan perusahaan dapat dicapai atau tidak. Kinerja kerja seorang karyawan tidak selalu berada dalam kondisi yang baik karena hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal.
Faktor-faktor kinerja menurut Mangkunegara (2009) terdiri dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang dihubungkan dengan sifat-sifat seseorang. Misalnya, kinerja seseorang baik disebabkan karena mempunyai kemampuan tinggi dan seseorang itu tipe pekerja keras, sedangkan seseorang mempunyai kinerja jelek disebabkan orang itu mempunyai kemampuan rendah dan orang tersebut tidak memiliki upaya-upaya untuk memperbaiki kemampuannya. Faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang yang berasal dari lingkungan. Seperti perilaku, sikap, dan tindakan-tindakan rekan kerja, bawahan atau pimpinan, fasilitas kerja, dan iklim organisasi. Faktor internal dan faktor eksternal ini merupakan jenis-jenis atribusi yang mempengaruhi kinerja seseorang. Jenis-jenis atribusi yang dibuat para karyawan memiliki sejumlah akibat psikologis dan berdasarkan pada tindakan. Seorang karyawan yang menganggap kinerjanya baik berasal dari faktor-faktor internal seperti kemampuan atau upaya, orang tersebut tentunya akan mengalami lebih banyak perasaan positif tentang kinerjanya dibandingkan dengan jika ia menghubungkan kinerjanya yang baik dengan faktor eksternal.
Kinerja (performance) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Faktor Individual yang terdiri dari:
a. Kemampuan dan keahlian
b. Latar belakang
c. Demografi
2. Faktor Psikologis yang terdiri dari:
a. Persepsi
b. Attitude
c. Personality
d. Pembelajaran
e. Motivasi
3. Faktor Organisasi yang terdiri dari :
a. Sumber daya
b. Kepemimpinan
c. Penghargaan
d. struktur
e. Job Design
Ada 5 faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan menurut Gunawan (2013) adalah sebagai berikut :
1. Fasilitas Kantor
Fasilitas kantor merupakan sarana yang menunjang seorang karyawan untuk melakukan aktifitas kerjanya dengan baik dan apabila perusahaan tidak dapat memberikan fasilitas yang memadai, tentu saja hal ini akan menurunkan kinerja kerja karyawan.
Fasilitas kantor adalah sarana pendukung dalam aktivitas perusahaan berbentuk fisik, dan digunakan dalam kegiatan normal perusahaan, memiliki jangka waktu kegunaan yang relatif permanen, dan memberikan manfaat untuk masa yang akan datang. Fasilitas kantor yang digunakan oleh setiap perusahaan bermacam-macam bentuk, jenis dan manfaatnya. Semakin besar aktivitas suatu perusaan maka semakin lengkap pula fasilitas dan sarana pendukung dalam proses kegiatan untuk peoses kegiatan untuk mencapai tujuan tesebut. Karakteristik fasilitas kantor yang mencakup sarana dan prasarana pendukung dalam proses aktivitas perusahaan/organisasi antara lain sebagai berikut :
a. Mempunyai bentuk fisik
b. Memberikan manfaat dimasa yang akan datang
Pengelolaan Fasilitas bertujuan untuk :
a. Mengupayakan pengadaan sarana prasarana melalui sistem perencanaan secara hati-hati dan seksama.
b. Mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana secara tepat dan efisien.
c. Mengupayakan pemeliharaan sarana dan pra sarana agar siap pakai apabila diperlukan.
d. Membnatu personil dalam memberi layanan secara profesional dalam bidang sarana dan pra sarana.
e. Dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja personil.
Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat).
2. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan, karena hampir 80% karyawan resign jika lingkungan kerja mereka tidak baik. Lingkungan kerja yang baik memiliki ruang kerja yang cukup luas, penerangan yang sempurna dan temperatur udara yang sesuai dengan luas ruangan kerja karyawan. Jika ada salah satu fasilitas tersebut yang rusak, langsung segera diperbaiki agar kinerja kerja karyawan tidak menurun dan karyawan tetap nyaman dalam melakukan aktifitas kerja mereka sehari-hari.
Lingkungan kerja menurut Riadi (2014) adalah kehidupan sosial, psikologi, dan fisik dalam perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai keadaan lingkungan sekitarnya, antara manusia dan lingkungan terdapat hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini, manusia akan selalu berusaha untuk beradaptasi dengan berbagai keadaan lingkungan sekitarnya. Demikian pula halnya ketika melakukan pekerjaan, karyawan sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dari berbagai keadaan disekitar tempat mereka bekerja, yaitu lingkungan kerja. Selama melakukan pekerjaan, setiap pegawai akan berinteraksi dengan berbagai kondisi yang terdapat dalam lingkungan kerja.
Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 2001). lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja seorang pegawai. Seorang pegawai yang bekerja di lingkungan kerja yang mendukung dia untuk bekerja secara optimal akan menghasilkan kinerja yang baik, sebaliknya jika seorang pegawai bekerja dalam lingkungan kerja yang tidak memadai dan tidak mendukung untuk bekerja secara optimal akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi malas, cepat lelah sehingga kinerja pegawai tersebut akan rendah. Secara garis besar, jenis lingkungan kerja terbagi menjadi dua, yaitu
a. Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu:
1. Lingkungan kerja yang langsung berhubungan dengan pegawai seperti pusat kerja, kursi, meja, dan sebagainya.
2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia misalnya temparatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanik, bau tidak sedap, warna dan lain-lain.
Untuk dapat memperkecil penguruh lingkungan fisik terhadap karyawan, maka langkah pertama harus mempelajari manusia, baik mengenal fisik dan tingkah lakunya, kemudian digunakan sebagai dasar memikirkan lingkungan fisik yang sesuai.
b. Lingkungan Kerja Non Fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan, maupun hubungan dengan sesama rekan kerja ataupun hubungan dengan bawahan.
Perusahaan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antar tingkat atasan, bawahan maupun yang memiliki status yang sama. Kondisi yang hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik, dan pengendalian diri. Jadi lingkungan kerja non fisik ini juga merupakan kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan.
Manfaat lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat terselesaikan dengan tepat, yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yagn ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan, dan tidak akan menimbulkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi.
3. Prioritas Kerja
Berikan prioritas kerja yang jelas. Karyawan akan merasa kebingungan jika pimpinan memberikan banyak tugas kepada mereka tetapi tidak memberikan skala prioritas yang jelas, kemudian biarkan mereka mengerjakan pekerjaannya satu demi satu dengan timeline yang sudah ditentukan dan jangan menambahkan tugas yang lain sebelum pekerjaan tersebut diselesaikan, jika memang ada pekerjaan penting yang harus diberikan kepada karyawan, maka harus menggeser deadline pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan, supaya karyawan dapat bekerja dengan tenang dan tidak didesak oleh waktu.
Prioritas kerja merupakan salah satu cara yang sangat ampuh untuk meraih kesuksesan dalam berkarir. Sebagai manusia skala prioritas utama Anda dalam kehidupan tentunya adalah karir yang sukses karena tentunya Anda bekerja untuk mendapatkan banyak uang. Di dunia kerja prioritas dari seorang pegawai adalah memberikan hasil pekerjaan yang maksimal karena mereka adalah ujung tombak dari perusahaannya. Nah, sayangnya untuk meraih hasil yang maksimal konsentrasi dan fokus tidaklah cukup, karena percayalah ada kalanya Anda akan mengalami kendala yang bisa membuyarkan pekerjaan Anda.
Disinilah pentingnya merancang sebuah skala prioitas dalam pekerjaan Anda, karena membentu skala prioritas bisa membantu Anda bahkan bisa menjadi solusi yang tepat saat Anda dikejar tenggat waktu. Nah, untuk membantu Anda berikut ini beberapa cara untuk menyusun skala prioritas saat bekerja. Kendala yang pasti dihadapi apabila prioritas tidak diterapkan di dunia kerja, mungkin terasa berat pekerjaan itu karena banyak yang harus diselesaikan. Konsentrasi semakin buyar dan tak satu pun pekerjaan selesai dengan baik. Masalah lain muncul biasanya berkisar dari kurang percaya diri akibat pekerjaan yang kurang memuaskan pimpinan atau konsumen. Bahkan akumulasinya bisa menyebabkan stres. Demikian halnya kalau seorang staf bisa membagi waktu dan memprioritaskan pekerjaannya. Dia akan yakin dengan kemampuan diri sendiri, dan akan berani mencoba hal atau tantangan baru.Fokus di dalam bekerja akan membuat kita menjadi lebih produktif serta dapat mengurangi beban stress. Kemudian manajemen waktu membuat karyawan akan bisa bekerja dengan lebih efektif.
4. Supportive Boss
Sebagai atasan yang baik Anda harus mau “mendengarkan” pendapat dan pemikiran karyawan Anda. Berikan dukungan kepada mereka untuk mengemukakan pendapat dan ide-ide baru pada saat meeting, ajak mereka untuk “terlibat” dalam proyek yang sedang Anda kerjakan. Anda juga harus memberikan ruang kepada mereka untuk belajar dan berkreasi pada bidang yang mereka minati supaya mereka dapat terus mengasah ilmunya, sebab jika suatu saat jika Anda membutuhkan skill tersebut Anda bisa menggunakan tenaga mereka tanpa harus merekrut karyawan baru dan tentu saja hal ini akan menguntungkan perusahaan Anda.
Supportive boss terdiri dari 2 kata yaitu supportive yang berarti dukungan dan boss yang berarti atasan. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa supportive boss merupakan dukungan karyawan yang diberikan kepada atasan yang dalam hal ini pimpinan/kepala puskesmas.
Seorang atasan/bos harus benar-benar mampu memerankan dirinya sebagai seorang atasan yang inspiratif, memiliki visi yang jelas, dan tak segan memberikan apresiasi jika saya menuntaskan pekerjaan dengan baik. Kompetensinya yang brilian telah membuat saya betah dan merasa happy bekerja dengannya (sudah sepuluh tahun kami tidak pernah bertemu, namun kualitasnya sebagai an inspiring boss telah membuat saya selalu terngiang dengan dirinya setiap kali bicara tentang peran atasan dalam menciptakan kepuasan kerja.
5. Bonus
Sebagian besar karyawan akan bekerja dengan senang hati bila pekerjaan yang mereka kerjakan dihargai oleh perusahaan. Penghargaan terhadap karyawan bisa dimulai dari hal yang sederhana seperti pujian dari atasan atau bahkan berupa bonus. Bonus ini dapat Anda berikan kepada karyawan Anda yang memang benar-benar mampu bekerja dengan baik sesuai dengan yang Anda harapkan. Pemberian penghargaan tersebut ada baiknya jika disaksikan oleh karyawan Anda yang lain, tujuannya untuk memicu rasa kompetisi agar mereka dapat bekerja lebih baik lagi.
Pemberian bonus kepada karyawan ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktifitas kerja dan semangat kerja karyawan. Pengertian bonus adalah Pembayaran sekaligus yang diberikan karena memenuhi sasaran kinerja. Bonus adalah :
a) Uang dibayar sebagai balas atas hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan apabila melebihi target.
b) Diberikan secara sekali terima tanpa sesuatu ikatan di masa yang akan datang.
c) Beberapa persen dari laba yang kemudian dibagikan kepada yang berhak menerima bonus.
Bonus diberikan apabila karyawan mempunyai profitabilitas atau keuntungan dari seluruh penjualan tahun lalu. Penentuan besarnya pemberian bonus adalah berdasarkan kebijakan perusahan, tidak ada ketetapan yang pasti mengenai bonus yang diberikan. Dessler (1997:417) menyatakan bahwa “Tidak ada aturan yang pasti mengenai sistem perhitungan bonus dan beberapa perusahaan tidak memiliki formula untuk mengembangkan dana bonus”.
Didalam pemberian bonus kepada karyawan. Perusahaan memberikan bonus setiap tahun dengan waktu yang tidak ditentukan, bisa di awal tahun, pertengahan, atau akhir tahun. Besarnya bonus yang ditetapkan adalah 1 sampai 2 kali gaji pokok karyawan.
B. Kerangka Teoritis
Skema 2.1
Kerangka Teoritis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan UPTD Puskesmas Langsa Kota
HUBUNGAN FASILITAS PUSKESMAS DAN PENDAPATAN JASA JKN TERHADAP TARGET SPM DI UPTD PUSKESMAS LANGSA KOTA #1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan. Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan tiga pilar utama yaitu Paradigma sehat, penguatan atau peningkatan pelayanan kesehatan, dan jaminan kesehatan nasional. (Kemenkes, 2015).
Upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas, diantaranya adalah meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Di sini peran puskesmas dan jaringanannya sebagai institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan di jenjang pertama yang terlibat langsung dengan masyarakat menjadi sangat penting. Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Dengan demikian akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat ditingkatkan melalui peningkatan kinerja puskesmas (Sulistiani, 2011).
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas menyebutkan bahwa puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untukmencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Selain melaksanakan tugas tersebut, puskesmas memiliki fungsi sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) tingkat pertama dan Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) tingkat pertama serta sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI melalui Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019 menyebutkan bahwa dengan diberlakukannya UU Nomor 23 tahun 2014 sebagai pengganti UU Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Provinsi selain berstatus sebagai daerah juga merupakan wilayah administratif yang menjadi wilayah kerja bagi gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat. Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan yang telah diatur oleh Menteri Kesehatan, maka UU Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang baru ini telah memberikan peran yang cukup kuat bagi provinsi untuk mengendalikan daerah-daerah kabupaten dan kota di wilayahnya. Pengawasan pelaksanaan SPM bidang Kesehatan dapat diserahkan sepenuhnya kepada provinsi oleh Kementerian Kesehatan, karena provinsi telah diberi kewenangan untuk memberikan sanksi bagi Kabupaten/Kota berkaitan dengan pelaksanaan SPM.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah salah satu bentuk standar yang pada dasarnya ditetapkan untuk menjamin dan mendukung pelaksanaan kewenangan wajib oleh daerah sekaligus merupakan akuntabilitas daerah kepada Pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal (Andi, 2009).
Menurut Kemenkes RI (2015) beberapa target Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan difokuskan pada beberapa upaya kesehatan promotif dan preventif meliputi KIA, KB, imunisasi, perbaikan gizi masyarakat, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan dan pengendalian penyakit, dan upaya kesehatan lain sesuai risiko dan masalah utama kesehatan di wilayah setempat. Upaya ini di dukung oleh bantuan dana dari Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan Puskesmas untuk mendukung tercapainya target Millennium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan tahun 2015. Selain itu diharapkan dengan bantuan ini dapat meningkatkan kualitas manajemen Puskesmas, terutama dalam perencanaan tingkat Puskesmas dan lokakarya mini Puskesmas, meningkatkan upaya untuk menggerakkan potensi masyarakat dalam meningkatkan derajat kesehatannya, dan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif yang dilakukan oleh Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu.
Sasaran Strategis Kementerian Kesehatan RI adalah Meningkatnya sinergitas antar Kementerian/Lembaga, dengan sasaran yang akan dicapai melalui peningkatan persentase kab/kota yang mendapat predikat baik dalam pelaksanaan SPM sebesar 80% (Kemenkes RI, 2015).
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang didirikan oleh pemerintah adalah institusi pelayanan kesehatan masyarakat yang dituntut untuk memenuhi pelayanan kesehatan masyarakat dengan baik sebagai tugas pokoknya. Begitu juga dengan Puskesmas Langsa Kota di Kota Langsa. Berdasarkan data Hasil Cakupan Keberhasilan Program KIA Puskesmas Langsa Kota tahun 2015 dapat diketahui bahwa hampir semua indikator menunjukkan pencapaian target kecuali indikator Penanganan Komplikasi obstetric (PK), Cakupan Kunjungan Neonatal Lengkap (KN Lengkap) dan Cakupan Kunjungan Balita.
Hasil Cakupan Keberhasilan Program KB Puskesmas Langsa Kota tahun 2015 menunjukkan bahwa indikator Cakupan KB Aktif/CPR belum mencapai target. Hasil Cakupan Keberhasilan Program Gizi Puskesmas Langsa Kota tahun 2015 menunjukkan bahwa hampir keseluruhan indikator belum mencapai target. Hasil Capaian Kegiatan Kesehatan Lingkungan periode Januari-Oktober tahun 2015 menunjukkan bahwa indikator Pengawasan Tempat Pengelolaan Makanan & Minuman dan indikator Pengawasan Tempat-Tempat Umum belum mencapai target, sedangkan indikator lainnya telah mencapai target. Hasil Cakupan Keberhasilan Program DBD Puskesmas Langsa Kota tahun 2015 menunjukkan keseluruhan indikator sudah mencapai target. Begitu juga dengan Hasil Cakupan Keberhasilan Program TB tahun 2014 Puskesmas Langsa Kota yang menunjukkan indikator keberhasilan.
Pencapaian cakupan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di UPTD Puskesmas Langsa Kota tahun 2015 secara keseluruhan belum memenuhi target. Indikator SPM yang belum memenuhi target di UPTD Puskesmas Langsa Kota perlu mendapatkan perhatian, karena pencapaian cakupan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah tolak ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Daerah Kabupaten/Kota untuk memberikan Pelayanan dasar dan mengurus keperluan kebutuhan dasar masyarakat khususnya masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Langsa Kota.
Faktor yang diduga mempengaruhi perolehan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah fasilitas puskesmas dan pendapatan JKN, karena kedua hal tersebut mempengaruhi kinerja pelayanan kesehatan. Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat berjalan dengan baik maka perlu didukung dengan regulasi yang memadai. Perubahan dan penyusunan regulasi disesuaikan dengan tantangan global, regional dan nasional. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merasa perlu dilakukannya penelitian mengenai hal tersebut dan akan mengangkatnya dalam suatu skripsi yang berjudul Hubungan Fasilitas Puskesmas dan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Hubungan Fasilitas Puskesmas dan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
C. Ruang Lingkup
Untuk memfokuskan pada tujuan penelitian maka penulis membatasi ruang lingkup skripsi ini. Adapun yang menjadi ruang lingkup adalah untuk mengetahui Bagaimanakah Hubungan Fasilitas Puskesmas dan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Bagaimanakah Hubungan Fasilitas Puskesmas dan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Bagaimanakah Hubungan Fasilitas Puskesmas Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
b. Bagaimanakah Hubungan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan masukan dan kajian bagi Puskesmas Langsa Kota dan Dinas Kesehatan Kota Langsa untuk meningkatkan mutu dalam pelayanan yang diberikan pada masyarakat terutama pelayanan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di UPTD Puskesmas Langsa Kota.
b. Sebagai bahan evaluasi kepada petugas atau pegawai di Puskesmas Langsa Kota dalam hal kinerja pelayanan yang diberikan pada masyarakat/pasien.
c. Sebagai tambahan masukan dan pengetahuan bagi penulis dan pembaca tentang target Standar Pelayanan Minimal (SPM) ditinjau berdasarkan fasilitas puskesmas dan pendapatan jasa JKN.
2. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan bagi perkembangan khazanah keilmuan di bidang kesehatan khususnya mengenai permasalahan target Standar Pelayanan Minimal (SPM).
F. Keaslian Penelitian
Sepengetahuan penulis, penelitian dengan judul Hubungan Fasilitas Puskesmas dan Pendapatan Jasa JKN Terhadap Target SPM di UPTD Puskesmas Langsa Kota belum pernah dilakukan oleh mahasiswa di STIKes Bustanul Ulum Langsa, namun ada beberapa penelitian terkait dengan penelitian ini, yaitu :
1. Irenius Siriyei, Ratna Dwi Wulandari (2013) dengan judul Faktor Determinan Rendahnya Pencapaian Cakupan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Puskesmas Mojo Kota Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang bersifat deskriptif. Data dikumpulkan secara cross sectional pada satu waktu. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Mojo Surabaya. Kesimpilan dari penelitian ini adalah Faktor Input yang menjadi determinan rendahnya pencapaian Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan di Puskesmas Mojo Kota Surabaya yaitu faktor pelatihan dan faktor beban kerja. Sedangkan faktor kerjasama tim, faktor ketersediaan dana (biaya), dan faktor sarana prasana (alat medis dan non medis) bukan merupakan faktor determinan. Faktor proses yang menjadi determinan rendahnya pencapaian Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan di Puskemas Mojo Kota Surabaya adalah faktor proses perencanaan (P1).
2. Windy N. Tumuwe, Christian Tilaar dan Franckie R.R Maramis (2014) dengan judul Analisis Implementasi Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Puskesmas Ondong Siau Barat Kabupaten Sitaro. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, Informasi dikumpulkan dari 6 orang informan yang terkait dalam pelaksanaan standar pelayanan minimal di Puskesmas dengan manggunakan metode triangulasi. Pelaksanaan SPM di Puskesmas Ondong belum mencapai target. Ada beberapa indikator SPM bidang kesehatan yang tidak mencapai target diantaranya komplikasi kebidanan yang ditangani, dan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi. Faktor-faktor penghambat yaitu kurangnya sumberdaya manusia, kurangnya sarana dan prasarana di Puskesmas Ondong, transportasi dan cuaca, budaya dan pola pikir masyarakat, serta kurangnya manajemen evaluasi di Puskesmas Ondong. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam Implementasi SPM bidang kesehatan di Puskesmas Ondong belum terlaksana dengan baik
DISTRIBUSI NILAI r tabel SIGNIFIKANSI 5% dan 1%
N Significance N Significance
5% 1% 5% 1%
3 0.997 0.999 38 0.320 0.413
4 0.950 0.990 39 0.316 0.408
5 0.878 0.959 40 0.312 0.403
6 0.811 0.917 41 0.308 0.398
7 0.754 0.874 42 0.304 0.393
8 0.707 0.834 43 0.301 0.389
9 0.666 0.798 44 0.297 0.384
10 0.632 0.765 45 0.294 0.380
11 0.602 0.735 46 0.291 0.376
12 0.576 0.708 47 0.288 0.372
13 0.553 0.684 48 0.284 0.368
14 0.532 0.661 49 0.281 0.364
15 0.514 0.641 50 0.279 0.361
16 0.497 0.623 55 0.266 0.345
17 0.482 0.606 60 0.254 0.330
18 0.468 0.590 65 0.244 0.317
19 0.456 0.575 70 0.235 0.306
20 0.444 0.561 75 0.227 0.296
21 0.433 0.549 80 0.220 0.286
22 0.432 0.537 85 0.213 0.278
23 0.413 0.526 90 0.207 0.267
24 0.404 0.515 95 0.202 0.263
25 0.396 0.505 100 0.195 0.256
26 0.388 0.496 125 0.176 0.230
27 0.381 0.487 150 0.159 0.210
28 0.374 0.478 175 0.148 0.194
29 0.367 0.470 200 0.138 0.181
30 0.361 0.463 300 0.113 0.148
31 0.355 0.456 400 0.098 0.128
32 0.349 0.449 500 0.088 0.115
33 0.344 0.442 600 0.080 0.105
34 0.339 0.436 700 0.074 0.097
35 0.334 0.430 800 0.070 0.091
36 0.329 0.424 900 0.065 0.086
37 0.325 0.418 1000 0.062 0.081
Selasa, 22 Maret 2016
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN KASUS KOLESTEROL DAN HIPERTENSI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi baru dan proteinuria terukur (quan tiped proteinuria) yang terjadi pada kehamilan 20 minggu atau lebih yang menghilang setelah melahirkan. Terdapat hipotesis mengenai penyebab hipertensi dalam kehamilan termasuk peran stres oksidatif, inflamasi, maladaptasi sirkulasi, kelainan humoral, mineral, atau metabolik (Rahajuningsih.D.S, 2008).
Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyulit kehamilan dan salah satu penyebab kematian utama baik bagi ibu maupun bayinya. Di Indonesia mortalitas dan morbiditas akibat hipertensi dalam kehamilan masih cukup tinggi sekitar 5 - 15 % penyulit kehamilan. Hal ini disebabkan karena persalinan di Indonesia masih banyak ditangani oleh petugas non medik dan sistem rujukan ibu hamil yang belum sempurna (Prawirohardjo, 2008).
Secara tradisi diagnosis hipertensi dalam kehamilan ditegakkan bila seseorang wanita hamil menunjukkan triad : hipertensi, proteinuria, dan edema setelah kehamilan 20 minggu, akhir trimester II dan awal trimester III (Rahajuningsih.D.S, 2008).
Hipertensi secara umum didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah diastolik dan sistolik. Tekanan diastolik menggambarkan resistensi perifer, sedangkan tekanan sistolik menggambarkan besaran curah jantung. Berbagai penyebab hipertensi antara lain penyakit ginjal, kelainan kelenjar adrenal, hipertensi yang diinduksi kehamilan dan juga peningkatan kadar kolesterol darah (kasim R, dkk, 2008).
Peningkatan kadar kolesterol darah dapat menyebabkan hipertensi karena kolesterol yang berlebih dalam darah akan melekat pada dinding pembuluh darah arteri sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan arteri (Badruzzaman, hipertensi, stroke, jantung koroner, bias sembuh permanen, Peningkatan kolesterol sendiri dapat disebabkan karena mengkonsumsi terlalu banyak lemak jenuh, seperti makanan yang banyak mengandung lemak, kelebihan berat badan, tingkat aktifitas atau kekurangan gerak fisik, merokok, dan terlalu banyak asupan alkohol (wsp, artikel hipokolesterolemia. Oleh karena itu wanita hamil yang kolesterolnya tinggi dapat menyebabkan hipertensi dalam kehamilan, keadaan ini apabila tidak dikontrol dapat membahayakan pada ibu dan bayinya, kelahiran prematur, dan juga meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung.
1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen Pembimbing dan CI Lapangan mengenai permasalahan ibu hamil.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui dan dapat menjelaskan permasalahan yang menyangkut Kolesterol pada ibu hamil.
2. Mahasiswa mengetahui dan dapat menjelaskan permasalahan yang menyangkut Hipertensi pada ibu hamil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kolesterol Pada Ibu Hamil
Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh didalam rahim ibu selanjutnya dapat dijelaskan tingkat pertumbuhan dan besarnya janin seusia kehamilan, pada setiap dilakukan pemeriksaan kehamilan (Prawirohardjo, 2008).
Sebagian besar lemak yang terdapat di dalam tubuh akan masuk ke dalam kategori asam lemak dan triasligliserol, gliserofosfolipid dan sfingolipid, eicosanoid, kolesterol, garam empedu, dan hormon steroid, serta vitamin larut lemak. Lemak-lemak ini memiliki fungsi dan struktur kimia yang sangat beragam. Namun, mereka memiliki satu sifat yang sama tidak larut dalam air.
Asam lemak, yang disimpan sebagai triasilgliserol, berfungsi sebagai bahan bakar dan merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Gliserofosfolipid dan sfingolipid, yang mengandung asam-asam lemak ester, ditemukan di membran dan dalam lipoprotein darah di antarmuka (interface) antara komponen lemak struktur-struktur tersebut dengan air di sekelilingnya. Lemak-lemak membran ini membentuk sawar hidrofoblik di antara kompartemen-kompartemen subseluler serta antara konstituten-konstituten sel dan lingkungan ekstrasel. Asam lemak polyunsaturated yang mengandung 20 karbon membentuk eikosanoid, lipid ini mengatur banyak proses di dalam sel.
Kolesterol berperan menstabilkan lapis ganda (bilayer) fosfolipid pada membran. Kolesterol berfungsi sebagai prekusor garam-garam empedu, senyawa mirip deterjen yang berfungsi dalam proses pencernaan dan penyerap lemak. kolesterol juga berfungsi sebagai prekusor hormon steroid yang memiliki banyak fungsi, termasuk mengatur metabolisme pertumbuhan dan reproduksi.
Vitamin larut lemak adalah lemak yang berperan dalam aneka ragam fungsi seperti penglihatan, pertumbuhan dan diferensiasi (vitamin A), pembekuan darah (vitamin K), pencegahan kerusakan oksidatif pada sel (vitamin E), dan metabolisme kalsium (vitamin D).
Triasligliserol, lemak terutama dalam makanan, terutama dicerna di dalam lumen usus. Produk-produk pencernaan tersebut diubah kembali menjadi triasligliserol di dalam sel epitel usus, yang lalu dikemas dalam lipoprotein yang dikenal sebagai klimikron, dan disekresikan ke dalam limfe. Akhirnya kilomikron masuk ke dalam darah dan berfungsi sebagai salah satu lipoprotein utama dalam darah.
Lipoprotein berdensitas sangat rendah (very low density lipoproteins VLDL) dibentuk di hati, terutama dari karbohidrat makanan. Lipogenesis merupakan proses perubahan glukosa menjadi asam lemak yang kemudian mengalami esterifikasi ke gliserol untuk membentuk triasilgliserol yang terkemas dalam VLDL dan disekresikan ke luar hati.
Triasilgliserol pada klimokron dan VLDL dicerna oleh lipoprotein lipase (LPL), suatu enzim yang melekat pada sel endotel kapiler. Asam-asam lemak yang dibebaskan kemudian diserap oleh otot dan jaringan lain untuk dioksidasi menjadi CO2 dan air untuk menghasilkan energi. Setelah makan, asam lemak ini diserap oleh jaringan adiposa dan disimpan sebagai triasilgliserol
2.2. Hipertensi Pada Ibu Hamil
Hipertensi ialah tekanan darah diastolik paling rendah 90 mmHg atau tekanan sistolik paling rendah 140 mmHg atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih dan kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg atau lebih. Pengukuran tekanan darah ini harus dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali dengan selang waktu 6 jam atau lebih.
Hipertensi dalam kehamilan merupakan komplikasi kehamilan dan sebagai salah satu dari trias komplikasi, yang tetap merupakan penyebab kematian ibu. Hipertensi dalam kehamilan, malahan dianggap sebagai penyebab kematian dan morbiditas perinatal yang tinggi. Bagaimana kehamilan sendiri dapat menyebabkan atau memperberat penyakit hipertensi vaskuler (hypertensive vascular disease) dengan komplikasi-komplikasinya, masih belum diketahui dengan jelas walaupun telah puluhan tahun dilakukan penelitian yang itensif. Penyakit ini tetap merupakan salah satu masalah penting yang belum terpecahkan (R.Hariadi, 1991). Derajat beratnya hipertensi akibat kehamilan terdiri dari etologi primer dan skunder yaitu :
1. Etologi primer
a. Obesitas
b. Hipertensi
c. Preeklampsia dan eklampsia
d. Retensi natrium dan air
e. Merokok
f. Sensitive terhadap agiostensin
g. Hiperkolesterolemia
h. Emosi labil
2. Etologi skunder
a. Penyakit kelenjar adrenal
b. Penyakit ginjal kronik/akut
c. Toksemi gravidarum (PIH) : PER, PEB
d. PTIK (peningkatan tekanan intrakanial)
e. Kontrasepsi (Gunawan, lany, 2001)
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001, ialah :
1. Hipertensi kronik
Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pascapersalinan.
2. Preeklampsia-eklampsia
Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuri. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan atau koma
3. Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia
Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia adalah hipertensi kronik di sertai tanda-tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria
4. Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional (disebut juga transient hypertension) adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda pre-eklampsia tetapi tanpa proteinuria.
Terdapat banyak faktor resiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat dikelompokkan dalam faktor risiko sebagai berikut:
1. Primigravida, primipaternitas
2. Hiperplasentosis, misalnya: mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar
3. Umur yang ekstrim
4. Riwayat keluarga pernah preeklampsia/eklampsia
5. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6. Obesitas
2.3. SOAP Kolesterol Pada Ibu Hamil
S : Ny. S umur 26 tahun datang ke Puskesmas Langsa Barat ingin memeriksakan kehamilannya dan ibu mengatakan ini kehamilan yang kedua (G1P0A0) dengan usia kehamilan 12 minggu. Ibu mengeluhkan pusing dan pandangan mata berkunang-kunang.
O : Ibu tampak lemas
K/U : Lemas Test Plano : (+)
TD : 190/110 mmHg RR : 20 x/m
Pols : 82 x/m Temp : 36,5 oC
TB : 162 cm BB sebelum hamil : 72 kg
BB sekarang : 80 kg LiLA : 30 cm
HPL : 24-04-2016 HPHT : 17 Juli 2015
Usia Kehamilan : 33 minggu
A : Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan belum pernah keguguran
P : 1. Anjurkan ibu untuk menjaga kesehatannya dan jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat
2. Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
3. Anjurkan ibu untuk makan-makanan yang sehat dan bergizi
4. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi SF (tablet besi) 1 x 1
5. Anjurkan ibu untuk tidak mengkonsumsi makanan yang berlemak
2.4. SOAP Hipertensi Pada Ibu Hamil
S : Ny. F umur 25 tahun datang ke Puskesmas Langsa Barat dengan keluhan sudah 5 hari ibu mengalami sakit kepala, dan terasa berat pada kepala bagian belakang.
O : Ibu tampak lemas menahan sakit
K/U : Baik Test Plano : (+)
TD : 130/80 mmHg RR : 22 x/m
Pols : 80 x/m Temp : 36 oC
A : Ibu mengatakan sakit pada kepala dan terasa berat pada kepala bagian belakang.
P : 1. Anjurkan ibu untuk mengurangi konsumsi makanan yang asin
2. Anjurkan ibu untuk menjaga kesehatan
3. Anjurkan ibu untuk menjaga aktivitas jangan terlalu berat
4. Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang apabila ada keluhan lain.
DAFTAR PUSTAKA
Bararah, Vera Farah. 2011. Waspadai Bercak Darah Saat Bukan Menstruasi. Jakarta: Detik health.
Bidanku. 2015. Flek Hitam, Tanda Kelahiran Semakin Dekat? diakses dari http://bidanku.com/flek-hitam-tanda-kelahiran-semakin-dekat
Manuaba. 2009. Keluarga Berencana, Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP.
Wekarsari, 2010, keputihan,https://www.repository.usu.ac.id/pdf diakses tanggal 16-3-2012.
Senin, 08 Februari 2016
PELEDAKAN JUMLAH PENDUDUK DAN KAITANNYA DENGAN GIZI MASYARAKAT
PELEDAKAN JUMLAH PENDUDUK DAN KAITANNYA DENGAN GIZI
MASYARAKAT
Disusun Oleh :
Raudhatul Jannah
1515192383
Dosen Pembimbing : Ir.
Neni EJ, MPH
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN (STIKes) HELVETIA PROGRAM DIV SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Peledakan Jumlah Penduduk Dan Kaitannya Dengan Gizi Masyarakat ini. Shalawat
dan salam kepada junjungan sekalian alam nabi besar Muhammad SAW yang telah
membawa umat manusia dari zaman zahiliyah ke alam yang berilmu pengetahuan.
Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan
oleh Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Helvetia Program DIV
Sarjana Terapan Kebidanan (S.Tr.Keb). Tak lupa jua penulis ucapkan terima kasih
kepada Ibu Ir. Neni EJ, MPH. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan
arahan, masukan dan bimbingan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran
yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini ke depannya.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi semua pembaca, khususnya bagi penulis selaku penyusun.
Billahitaufiq wal hidayah, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Medan, Januari 2016
Penyusun
Raudhatul Jannah
1515192383
|
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kependudukan ........................................................ 4
2.2 Masalah Gizi Ditinjau dari Segi Kependudukan .................. 4
2.3 Kependudukan dan Kaitannya Dengan Gizi ........................ 5
2.4 Faktor Penyebab Natalitas Dan Mortalitas ........................... 6
2.5 Upaya Menyelesaikan Masalah Gizi Kependudukan
........... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................................... 11
3.2 Saran ..................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA
|
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penduduk merupakan unsur penting
dalam usaha untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan kegiatan ekonomi.
Penduduk memegang peranan penting karena menyediakan tenaga kerja, tenaga ahli,
tenaga usahawan yang diperlukan untuk menciptakan kegiatan ekonomi. Di samping
itu, pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan bertambah dan makin kompleksnya
kebutuhan. Pertumbuhan penduduk suatu daerah dipengaruhi oleh fertilitas,
mortalitas dan migrasi. Apabila angka fertilitas lebih besar daripada angka
mortalitas, maka pertumbuhan penduduk menjadi positif. Begitu juga dengan
migrasi, apabila nilai migrasi masuk lebih besar daripada nilai migrasi keluar,
maka pertumbuhan penduduk menjadi positif.
Pertumbuhan penduduk dewasa ini
mengalami pertumbuhan relatif cepat, yang berimplikasi pada permasalahan
ekonomi, kondisi biofisik lingkungan, kesenjangan sosial dan ketersediaan lahan
yang cukup untuk menopang kesejahteraan hidup manusia. Jumlah penduduk yang
terus meningkat serta belum tertibnya pelaksanaan tata guna lahan menyebabkan
tekanan terhadap pemanfaat lahan makin besar. Kompetisi diantara berbagai
kepentingan terhadap lahan makin ketat. Atas nama pembangunan seringkali
(lahan) pertanian yang menjadi korban atau dikorbankan.
Berdasarkan laporan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) tanggal 29 Juli 2015,
melalui situs www.un.org dapat diketahui bahwa populasi dunia diperkirakan akan
mencapai 8,5 miliar pada tahun 2030, 9,7 miliar pada tahun 2050, dan melampaui
11 miliar pada tahun 2100, dengan India yang diperkirakan akan melampaui
Tiongkok, sebagai negara berpenduduk paling padat, sekitar tujuh tahun dari
sekarang, dan Nigeria akan melampaui Amerika Serikat untuk menjadi negara
terbesar ketiga di dunia dalam 35 tahun dari sekarang,
Selanjutnya dalam laporan tersebut, tingkat
harapan hidup saat lahir telah meningkat secara signifikan di negara-negara
kurang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Pencapaian rata-rata enam
tahun diantara negara-negara termiskin, dari 56 tahun pada tahun 2000-2005,
menjadi 62 tahun pada 2010-2015, diperkirakan akan meningkat dua kali lipat
untuk seluruh dunia. Sementara perbedaan yang signifikan dalam harapan hidup di
daerah utama, dan kelompok pendapatan diproyeksikan akan terus naik, mereka
diharapkan akan berkurang secara signifikan pada tahun 2045-2050.
Berdasarkan sensus penduduk tahun
2010, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 237.641.326 juta jiwa, menjadikan
negara ini negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Jumlah ini
diperkirakan akan terus bertambah sehingga diproyeksikan pada tahun 2015
penduduk Indonesia berjumlah 255 juta jiwa hingga mencapai 305 juta jiwa pada
tahun 2035. Pulau Jawa merupakan salah satu daerah terpadat di dunia, dengan
lebih dari 107 juta jiwa.
Jumlah penduduk Indonesia sudah
semakin meningkat, lebih dari dua ratus juta penduduk telah tercatat, sekitar
37,3 penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separuh dari total rumah tangga
mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari lima juta balita
berstatus gizi kurang dan lebih dari seratus juta penduduk beresiko terhadap
berbagai masalah kurang gizi. Semakin padatnya penduduk akan mempengaruhi
jumlah permintaan terhadap pangan yang harus dikonsumsi. Jika penduduk padat
disertai dengan jumlah penduduk produksi pangan melimpah dan penduduk mampu
menjangkau harga dari pangan tersebut tentu tidak menjadi masalah. Namun, jika
penduduk padat tidak disertai dengan produktifitas pangan yang memadai, maka
inilah yang menjadi masalah besar seperti gizi buruk terutama di negara
berkembang seperti Indonesia.
Rendahnya konsumsi pangan atau tidak
seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi mengakibatkan terganggunya pertumbuhan
organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit,
serta menurunnya aktivitas dan produktifitas kerja. Pada bayi dan balita,
kekurangan gizi dapat mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan
fisik, mental, dan spiritual. Bahkan, pada bayi, gangguan tersebut dapat
bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Kekurangan gizi pada bayi
dan balita akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia.
Kesehatan manusia adalah keperluan
dasar untuk pembangunan berkelanjutan. Tanpa kesehatan, manusia tidak dapat
membangun apa pun, tidak dapat menentang kemiskinan, atau melestarikan
lingkungan hidupnya. Sebaliknya, pelestarian lingkungan hidup merupakan hal
pokok untuk kesejahteraan manusia dan proses pembangunan. Lingkungan yang sehat
menghasilkan masyarakat yang sehat, sebaliknya lingkungan yang tidak sehat
menyebabkan banyak penyakit. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa tingkat
kepadatan penduduk yang tinggi akan mempengaruhi rendahnya konsumsi pangan dan
kadar gizi yang diperoleh. Diharapkan dengan menekan jumlah penduduk Indonesia,
masalah gizi buruk dan kelaparan dapat diminimalkan.
1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai didalam
penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah peledakan jumlah
penduduk dan kaitannya dengan gizi masyarakat. Selain itu, makalah ini juga
merupakan salah satu tugas yang diembankan kepada mahasiswa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Kependudukan
Kependudukan atau demografi adalah
ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya
ukuran, struktur, dan distribusi penduduk serta bagaimana jumlah penduduk
berubah setiap waktu akibat kelahiran,kematian, migrasi, serta penuaan.
Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok
tertentu yang didasarkan criteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama,
atau etnisitas tertentu. Tujuan Demografi adalah sebagai berikut :
1.
Mempelajari
kuantitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu.
2.
Menjelaskan
pertambahan penduduk masa lampau, penurunan, persebaran dengan data yang
tersedia.
3.
Mengembangkan
hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam-macam aspek
organisasi sosial.
4.
Mencoba
meramalkan pertumbuhan penduduk di masa akan datang.
2.2
Masalah Gizi Ditinjau dari Segi Kependudukan
Akibat kekurangan zat gizi, maka
simpanan zat gizi pada ubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Apabila
keadaaan ini berlangsung lama, maka simpanan zat gizi akan habis dan akhirnya
terjadi kemerosotan jaringan. Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang
atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya
akan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Masalah gizi dibagi menjadi 2 yaitu,
masalah gizi makro dan masalah gizi mikro. Adapun gangguan gizi mikro hanya dikenal
dalam bentuk gizi kurang zat gizi mikro tertentu, seperti kurang zat besi,
kurang zat yodium dan kurang vitamin A. Masalah gizi makro, terutama masalah
kurang energi protein yang telah menjadi perhatian para pakar gizi selama
puluhan tahun.
Disamping itu, tingkat kematian
anak-anak di bawah umur 4 tahun masih tinggi. Gejala tingkat kematian yang
tinggi tersebut merupakan suatu tanda bahwa keadaan gizi penduduk masih belum
baik. Masalah gizi yang timbul diatas salah satu penyebabnya dikarenakan faktor
demografi. Untuk Negara berkembang seperti Indonesia, masalah melonjaknya
tingkat pertumbuhan penduduk yang menyebabkan kepadatan penduduk masih sulit
untuk diatasi. Tingkat kepadatan penduduk akan mempengaruhi permintaan jumlah
pangan yang dibutuhkan. Permintaan jumlah pangan lebih cepat daripada
produksinya. Akibatnya, akan terjadi kesenjangan untuk kebutuhan dana produksi
pangan domestik yang semakin lebar. Penyebab utama kesenjangan itu adalah
adanya pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi.
Pada 2030 menurut Glick (2010)
diperkirakan akan terjadi kenaikan permintaan pangan dunia sebesar 50%. Hal ini
seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia yang diperkirakan menyentuh angka 9
miliar jiwa pada tahun yang sama. Dari sebaran menunjukkan, negara berkembang
menjadi penyumbang terbanyak pertumbuhan penduduk, dibanding negara transisi
dan negara maju. Hal ini memicu peningkatan kebutuhan pangan di negara
bersangkutan. Padahal jumlah lahan yang tersedia tidak melulu ada di negara
berkembang. Bahkan, ironisnya, stok pangan lebih banyak berada di negara maju
yang berhasil dengan program-program intensifikasi pangannya.
Kondisi perubahan iklim dunia, membuat
banyak negara mengatur ulang kebijakan ekspor pangan dari negaranya. Contohnya
adalah negara pengekspor beras seperti Vietnam dan Thailand yang sudah
memberikan peringatan pengurangan jumlah ekspor karena persediaan beras mereka juga
sudah menipis akibat cuaca ekstrem. Dampak langsungnya adalah melonjaknya harga
pangan dunia.
2.3
Kependudukan dan Kaitannya Dengan Gizi
Jumlah penduduk yang melonjak
drastis akan semakin berpengaruh di semua sektor bagi negara yang masih
berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan 10
tahun sekali diperoleh jumlah penduduk Indonesia sebagai berikut :
1.
Tahun
1961 = 97,1 juta jiwa.
2.
Tahun
1971 = 119,2 juta jiwa.
3.
Tahun
1980 = 147,5 juta jiwa.
4.
Tahun
1990 = 179.4 juta jiwa.
5.
Tahun
2000 = 202.3 juta jiwa.
6.
Tahun
2010 = 237.6 juta jiwa
Kepadatan penduduk yang relatif
terus meningkat akan menimbulkan banyak masalah. Stabilitas penduduk dimasa
lalu dilakukan dengan mengimbangi angka kelahiran dan kematian. Terpeliharanya
gizi dalam jangka panjang tidak hanya akan membatasi besarnya keluarga, tetapi
program gizi juga secara langsung merupakan mekanisme operasional untuk
mendorong keluarga berencana.
Sebagaimana pemberantasan gizi
kurang pada anak dan ibu bisa mendorong
keluarga kecil sejahtera, pembatasan jumlah keluarga juga bisa membantu
memperbaiki gizi dan keselamatan bayi. Perbaikan gizi akan memperkecil
keguguran dan memperpanjang masa reproduksi.
Pendidikan kependudukan merupakan
media untuk memperluas kesadaran tersebut. Pertumbuhan penduduk yang cepat
merupakan isu sentral yang dihadapi dunia,terlebih di negara berkembangan
termasuk Indonesia. Kualitas hidup sangat tergantung kepada ketersediaan sumber
daya yang dimiliki oleh individu dan masyarakat,serta berbagai mengelola dan
memanfaatkan sumber daya
2.4
Faktor Penyebab Natalitas Dan Mortalitas
1.
Biologis
Keadaan gizi kurang yang lama pada wanita dapat mengakibatkan
ganguan pada siklus haid.Wanita yang menyusui anaknya dapat memperpanjang waktu
untuk tidak memperoleh haid kembali,masa berhentinya haid setelah melahirkan
dapat di gunakan sebagai kontraseksi alamiah. Status gizi yang rendah akan
menurunkan resistensi tubuh terhadap infeksi penyakit, sehingga banyak
menyebabkan kematian terutama pada anak-anak balita (mempengaruhi angka
mortalitas). Melahirkan bayi pada usia muda atau terlalu tua mengakibatkan
kualitas anak yang rendah dan juga merugikan kesehatan ibu. Jarak kehaliran
yang terlalu dekat juga akan menyebabkan hal serupa.
2.
Sosio
Budaya dan Ekonomi
Beberapa kelompok masyarakat memiliki presensi untuk memperoleh
anak laki-laki sebagai penerus nama keluarga atau marga dan menanggung orang
tua di masa lanjut usia. Di Indonesia ada anggapan bahwa “banyak anak banyak
rejeki” (adanya kepercayaan bahwa anak adalah karunia Allah sehingga tak perlu
membatasi besarnya keluarga). Di beberapa Negara banyak terjadi pernikahan
pertama pada usia sangat muda (15-19 tahun).
3.
Pendidikan
Wanita yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan biasanya
mempunyai anak yang lebih banyak dibandingkan wanita berpendidikan lebih
tinggi.Frekuensi kehamilan dan melahirkan akan menyebabkan ibu berpeluang besar untuk mengalami gangguan kesehatan dan
menyebabkan angka kematian ibu dan anak tinggi .Di Indonesia AKI masih sangat tinggi dibandingkan
negara-negara ASEAN lainnya, yaitu mencapai 334/100.000 kelahiran pada tahun
2000.
4.
Kebijakan
a.
Pengendalian
pertumbuhan penduduk,terutama dilakukan untuk lebih menurunkan angka kelahiran
melalui gerakan KB mandiri yang semakin meningkat.
b.
Penurunan
tingkat kematian,khususnya kematian ibu saat persalinan,kematian bayi,kematian
anak balita melalui program pelayanan kesehatan terpadu.
c.
Pengarahan
morbiditas dan penyebaran penduduk dengan memperhatikan kemampuan daya dukung alam, sesuai tata ruang
yang ada serta mendukung peningkatan kesejahteraan ketahanan penduduk serta
keluarga.
d.
Memberikan
kesempatan kepada penduduk usia lanjut untuk berperan dalam pembangunan dan
menikmati hari tuanya sebagai penduduk usia lanjut yang sejahtera.
5.
Pengetahuan
Dan Teknologi
Kemajuan IPTEK kedokteran dan pelayanan kesehatan mengakibatkan
penurunan angka kematian dan penigkatan usia harapan hidup. Angka kematian bayi
di beberapa negara berkembang menunjukkan kecendurangan menurun. Hal ini
disebabkan oleh meningkatnya jumlah anak yang mendapatkan imunisasi untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi yang
mematikan. IPTEK yang berkembang baik telah menghasilkan berbagai teknik
kontrasepsi yang memungkinkan pasangan suami istri untuk memilih jenis KB.
6.
Struktur
Kependudukan
Struktur penduduk sering digambarkan dalam bentuk piramida
penduduk. Hasil pembangunan nasional,khususnya dalam bidang kependudukan dan
keluarga sejahtera telah menghasilkan
perubahan ciri kependudukan dan keluarga sejahtera telah menghasilkan perubahan
ciri kependudukan dengan piramida melebar menuju ke atas. Struktur tersebut
berciri penduduk golongan muda (di atas 15 tahun) yang tinggi dan diatas 60
tahun yang tinggi dengan massa tua yang semakin panjang. Struktur ini
mencerminkan proporsi usia subur yang tinggi dengan potensi melahirkan yang
tinggi.
Dampak pertambahan penduduk akan berakibat pada ketersedian sumber
daya dan kelestaraian lingkungan, ketersediaan pangan, kesehatan masyarakat
(ibu dan anak), kesempatan memperoleh pendidikan, maupun kesempatan kerja.
Pertumbuhan penduduk yang tinggi meningkatkan kompetisi pemanfaatan lahan yang
dapat mengancam keberadaan lahan pertanian subur. Konversi lahan pertanian
menjadi isu sentral bagi pemantapan ketahanan pangan (ketersediaan pangan),
karena lebih 60% produksi pada nasional dihasilkan di pulau jawa. Konsekuensi
yang harus dihadapi dari peristiwa tersebut yaitu ,apakah peningkatan
ketersediaan pangan mampu mengimbangi pertambahan penduduk. Adanya dinamika
kependudukan, berkaitan dengan pengelolaan SDA untuk pembangunan ekonomi
termasuk kesehatan, serta perkembangan IPTEK.
Ibu hamil yang mempunyai status gizi yang baik memiliki kemampuan
yang tinggi untuk melahirkan anak yang sehat dengan bobot badan lahir yang
normal dengan risiko kematian bayi yang rendah. Jika bayi lahir dengan BBLR,
menunjukkan kecendurangan untuk lebih mudah menderita berbagai macam penyakit
infeksi dan hal itu merupakan penyebab tingginya tingkat kematian pada kelompok
ini. Pembatasan jumlah keluarga juga bisa membantu memperbaiki gizi dan
keselamatan bayi.
2.5
Upaya Menyelesaikan Masalah Gizi Kependudukan
Masalah gizi yang timbul dari faktor
demografi atau kependudukan harus segera diatasi. Hal ini diharapkan dapat
meminimalkan penderita gizi buruk yang selama ini menjadi langganan masyarakat
Indonesia yang tidak sanggup menyediakan pangan untuk dikonsumsi. Upaya yang
dapat dilakukan antara lain untuk mengatasi masalah kepadatan penduduk yaitu
pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk serta pemerataan persebaran
penduduk. Sedangkan untuk mengatasi masalah gizi antara lain:
1.
Peningkatan
Gizi Masyarakat.
Hal ini dapat dilakukan dengan member makanan tambahan yang bergizi
terutama bagi anak-anak. Program ini dapat dioptimalkan melalui pemberdayaan
posyandu dan kegiatan PKK.
2.
Pelaksanaan
Imunisasi.
Berdasarkan prinsip, mencegah lebih baik dari pada mengobati.
Program imunisasi bertujuan melindungi tiap anak dari penyakit umum. Hal
tersebut dapat dilaksanakan melalui PIN (Pekan imunisasi Nasional).
3.
Penambahan
Fasilitas Kesehatan.
Fasilitas kesehatan harus mampu menampung dan menjangkau masyarakat
di daerah-daerah tertinggal. Penambahan fasilitas kesehatan ini meliputi rumah
sakit, puskesmas, puskesmas pembantu, polindes, dan posyandu. Penambahan
fasilitas ini dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat,
seperti imunisasi, KB, pengobatan, dan lain-lain. Dengan demikian dapat
mengurangi tingginya angka kematian bayi, dan meningkatkan angka harapan hidup
masyarakat.
4.
Penyediaan
Pelayanan Kesehatan Gratis.
Pemerintah menyediakan pelayanan gratis bagi penduduk miskin dalam
bentuk kartu sehat yang digunakan untuk memperoleh layanan kesehatan secara
murah, atau bahkan gratis di rumah sakit pemerintah atau puskesmas.
5.
Pengadaan
Obat Generik.
Pemerintah harus mengembangkan pengadaan obat murah yang dapat
dijangkau oleh masyarakat bawah. Penyediaan obat murah ini dapat berupa obat
generik.
6.
Penambahan
Jumlah Tenaga Medis.
Agar pelayanan kesehatan dapat mencakup seluruh lapisan masyarakat
dan mencakup sleuruh wilayah Indonesia, diperlukan penambahan jumlah tenaga
medis seperti dokter, bidan dan perawat. Tenaga medis tersebut juga harus
memiliki dedikasi tinggi untuk ditempatkan di daerah-daerah terpencil serta
berdedikasi tinggi melayani masyarakat miskin.
7.
Melakukan
Penyuluhan.
Melakukan
penyuluhan tentang arti pentingnya kebersihan dan pola hidup sehat. Penyuluhan
semacam ini juga bisa melibatkan lembaga-lembaga lain di luar lembaga kesehatan
seperti sekolah, organisasi masyarakat, dan tokoh-tokoh masyarakat. Jika
kesadaran akan arti pentingnya pola hidup sehat sudah tertanam dengan baik,
maka masyarakat akan dengan sendirinya trehindar dari berbagai penyakit.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masalah gizi dibagi menjadi 2 yaitu
: Masalah Gizi Mikro dan Masalah Gizi Makro. Menyingkapi permasalahan
ketidakseimbangan kecepatan pertumbuhan penduduk dibandingkan dengan kecepatan
produktivitas pangan nasional, maka Indonesia masih memiliki peluang untuk
memanfaatkan lahan yang masih luas, terutama di wilayah Indonesia Tengah dan
Timur. Tak sekadar intensifikasi (mengintensifkan lahan yang sudah ada), kita
masih bisa bicara banyak tentang ekstensifikasi (menambah lahan pertanian
baru). Investasi dari pemerintah maupun swasta masih sangat diperlukan karena
potensi kewilayahan yang luas. Perencanaan yang matang dengan sistem budidaya
yang terarah, menjadi kunci agar tidak menimbulkan banyak masalah di kemudian
hari.
3.2 Saran
1. Bagi Masyarakat, diharapkan masyarakat untuk memperhatikan besar
jumlah keluarga serta pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup bagi pemenuhan
kebutuhan sehari-hari.
2. Bagi Lembaga/ Kader Kesehatan, baik pihak kader maupun organisasi/
lembaga kesehatan untuk menantiasa meningkatkan pelayanan kesehatan dengan
mengadakan sistem kesehatan yang efektif, efisien, dan optimal serta senantiasa
mengadakan pemantauan status gizi keluarga atau masyarakat.
3. Bagi Pemerintah, kepada pemerintah hendaknya senantiasa melakukan
program kerja yang dapat meningkatkan masalah produktifitas pangan dan
melakukan pemantauan pemerataan jumlah penduduk di suatu daerah.
DAFTAR PUSTAKA
Glick,
Peter, 2010. Women’s Employment and Its Relation to Children’s Health and
Schooling in Developing. Cornel University.
http://sp2010.bps.go.id/
http://www.un.org/apps/news/story.asp?NewsID=51526#.Vod1BbaLTIV.
Kompasiana.
2015. Dampak Ledakan Penduduk di Indonesia dan Solusinya. http://www.kompasiana.com/fahrimfs/dampak-ledakan-penduduk-di-indonesia-dan-solusinya_54f382d47455137d2b6c7880.
Lean,
Michael. 2006. Ilmu Pangan, Gizi dan Kesehatan. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Minda.
2012. Teori-Teori Kependudukan. http://capil.muaraenimkab.go.id.
Noveria
Mita, dkk. 2012. Pertumbuhan Penduduk dan Kesejahteraan. Jakarta: UPT
BMR ( LIPI Press ).
Wirjatmadi,
Bambang. 2010 . Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: EGC.
Langganan:
Postingan (Atom)